News

Dari Lintrik ke Media Sosial: Perjalanan Ms. Alfa Membantu Orang yang Kebingungan

Published

on

Wartahot – Di tengah maraknya tren pembacaan kartu di media sosial seperti TikTok, muncul sosok Liliana atau yang dikenal dengan nama Ms. Alfa, pembaca kartu lintrik atau ceki yang telah lama mempelajari bidang tersebut. Berbeda dengan sebagian pembaca kartu yang baru mengikuti tren, Ms. Alfa justru telah menguasai pembacaan kartu lintrik jauh sebelum tren pembacaan kartu ramai di media sosial.

Siapa sebenarnya Ms. Alfa dan apa yang dilakukannya? Ms. Alfa adalah seorang pembaca kartu yang menggunakan beberapa jenis kartu sebagai media pembacaan, seperti kartu lintrik (ceki), kartu remi, dan juga kartu tarot. Namun, di antara ketiganya, kartu lintrik menjadi dasar utama yang telah ia pelajari sejak lama.

Dalam praktiknya, Ms. Alfa menggunakan kartu sebagai alat bantu untuk membantu orang-orang yang sedang kebingungan atau membutuhkan sudut pandang lain dalam menghadapi persoalan hidup. Ia menegaskan bahwa membaca kartu bukan sekadar menebak, melainkan membutuhkan pemahaman terhadap simbol, makna, serta aturan atau pakem tertentu.
Menurutnya, pembacaan kartu yang benar harus mengikuti aturan yang telah dipelajari, bukan sekadar asal berbicara atau membuat prediksi tanpa dasar.

Meski telah lama menguasai pembacaan kartu lintrik, Ms. Alfa awalnya tidak langsung terjun ke media sosial. Keputusan untuk tampil di platform digital justru muncul setelah ia melihat tren pembacaan kartu tarot yang ramai di TikTok.
Ia mengamati banyak konten pembacaan kartu yang viral, namun menurutnya tidak semuanya dilakukan dengan cara yang benar. Banyak pembacaan kartu yang tidak sesuai dengan pakem, bahkan cenderung mengarah pada hal-hal yang tidak tepat.

“Awalnya saya sudah bisa membaca kartu lintrik. Tapi waktu lihat di TikTok banyak yang membaca kartu tarot dan ramai sekali, saya jadi tertarik untuk ikut masuk,” jelas Ms. Alfa.

Namun, ketertarikannya bukan semata-mata mengikuti tren. Ia merasa perlu ikut hadir untuk memberikan alternatif pembacaan kartu yang menurutnya lebih bertanggung jawab dan tidak menyesatkan.

Salah satu alasan kuat Ms. Alfa memutuskan untuk ikut membuat konten adalah karena ia melihat adanya praktik yang menurutnya tidak sesuai dengan aturan pembacaan kartu. Menurutnya, ada pembaca kartu yang tidak memahami pakem, sehingga pembacaannya sering kali tidak tepat. Bahkan, dalam beberapa kasus, ia menilai ada unsur penipuan yang merugikan masyarakat. Ia mencontohkan bahwa sebagian oknum menawarkan jasa pembacaan kartu dengan harga murah, namun kemudian mengarahkan klien ke hal-hal yang tidak benar.

“Kadang bacaan kartu itu tidak sesuai, ujung-ujungnya malah mengarah ke hal yang tidak benar. Ada juga unsur penipuan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti adanya praktik yang meresahkan, seperti menawarkan ritual tertentu atau memberikan ancaman yang menakutkan kepada klien. Menurut Ms. Alfa, hal-hal seperti itu tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga mencoreng nama baik para pembaca kartu yang benar-benar mempelajari ilmunya.

Ketika pertama kali memulai membuat konten di TikTok, Ms. Alfa mengaku menghadapi berbagai tantangan. Ia tidak langsung mendapatkan banyak penonton, bahkan pada awalnya jumlah orang yang menyaksikan kontennya masih sangat sedikit. Namun, ia tetap konsisten karena niat awalnya adalah membantu orang yang membutuhkan. Ia juga berusaha memberikan pembacaan kartu dengan biaya yang terjangkau, sehingga orang-orang yang ingin mencoba pembacaan kartu tidak perlu mengeluarkan biaya besar.

“Di awal memang struggle, tidak banyak yang nonton. Tapi niatnya sudah baik, ingin membantu orang yang kebingungan dengan biaya yang murah,” katanya.

Seiring waktu, semakin banyak orang yang mengenalnya. Ia mulai berinteraksi dengan berbagai karakter klien, dari yang menghargai jasanya hingga yang meragukan atau tidak menghargai usahanya.Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanannya sebagai pembaca kartu di media sosial.

Dalam perjalanannya, Ms. Alfa juga semakin sering menemukan kasus yang menurutnya berkaitan dengan praktik penipuan berkedok pembacaan kartu. Ia menyebut adanya oknum yang mengaku sebagai pembaca kartu, namun sebenarnya tidak memiliki kemampuan yang memadai. Mereka hanya mengandalkan kemampuan berbicara untuk meyakinkan klien. Tidak sedikit pula yang memanfaatkan pesan pribadi untuk menawarkan jasa dengan janji-janji berlebihan. Bahkan, menurutnya, ada yang berani mengancam klien dengan hal-hal menakutkan, seperti santet atau ritual tertentu.

“Kadang mereka menawarkan harga murah, tapi ujung-ujungnya malah nipu. Ada juga yang mengancam santet atau hal-hal yang menakutkan,” ujarnya.

Menurut Ms. Alfa, praktik seperti itu membuat banyak orang menjadi takut atau kecewa terhadap pembacaan kartu secara umum.

Melalui aktivitasnya di media sosial, Ms. Alfa berharap dapat membantu masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih pembaca kartu. Ia juga ingin memberikan edukasi bahwa pembacaan kartu seharusnya dilakukan dengan tanggung jawab dan pemahaman yang jelas. Ia menegaskan bahwa pengalaman panjangnya dalam membaca kartu lintrik menjadi bekal utama dalam menjalankan aktivitasnya saat ini. Dengan bekal tersebut, ia berusaha menjaga kualitas pembacaan serta tetap berpegang pada pakem yang telah ia pelajari.

Bagi Ms. Alfa, tujuan utama bukan sekadar mengikuti tren atau mencari popularitas, melainkan membantu orang-orang yang sedang kebingungan agar mendapatkan pandangan yang lebih jelas tanpa merasa dirugikan.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version