News
Dugaan Malpraktik di RSIA Bunda Suryatni, Orang Tua Pasien Protes
Bogor, 21 April 2026 — Dugaan ketidaksesuaian tindakan medis dan pelayanan di RSIA Bunda Suryatni menjadi sorotan publik. Kasus ini mencuat setelah orang tua pasien anak mengungkap pengalaman mereka selama menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
Menurut keterangan keluarga, anak mereka dibawa ke IGD pada 13 April 2026 dini hari dengan indikasi campak. “Saat di IGD, anak kami sempat dirawat di ruang isolasi sebelum akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap,” ujar orang tua pasien.
Namun, dalam proses perawatan lanjutan, keluarga menyoroti tindakan pemasangan infus yang dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Petugas mencoba beberapa kali, tapi infus tidak masuk ke pembuluh vena. Bahkan sampai dicoba di beberapa titik,” ungkapnya.
Keluarga menyebutkan bahwa percobaan tersebut berdampak pada kondisi fisik anak.
“Setelah itu lengan anak kami mengalami pembengkakan. Kondisinya justru terlihat semakin lemah dibanding sebelumnya,” kata orang tua pasien.
Lebih lanjut, keluarga mengaku keberatan ketika tindakan medis kembali dilakukan pada area yang masih mengalami pembengkakan.
“Kami sempat menolak karena khawatir. Setahu kami, area yang bengkak seharusnya tidak langsung digunakan lagi untuk tindakan,” jelasnya.
Selain itu, keluarga juga menyoroti dugaan tidak dijalankannya prosedur operasional standar (SOP), termasuk tidak adanya gelang identitas pasien.
“Selama dirawat, anak kami tidak diberikan gelang pasien. Padahal itu penting sebagai identitas dan bagian dari SOP rumah sakit,” tambahnya.
Merasa tidak mendapatkan penjelasan yang memadai, pihak keluarga mengaku telah menyampaikan komplain kepada manajemen rumah sakit.
“Kami sudah menyampaikan keluhan, tapi respons yang kami terima belum menjawab apa yang kami pertanyakan,” ujarnya.
Keluarga juga mengaitkan persoalan ini dengan penerapan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, khususnya terkait standar pelayanan dan keselamatan pasien.
“Kami berharap ada evaluasi menyeluruh agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tegasnya.
Hingga berita ini disusun, pihak RSIA Bunda Suryatni belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi maupun tudingan yang disampaikan keluarga pasien. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan guna memperoleh klarifikasi berimbang.
Sementara itu, keluarga pasien menyatakan telah berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk dinas kesehatan setempat.
“Kami sedang menempuh langkah lanjutan. Jika tidak ada titik terang, kami mempertimbangkan jalur hukum,” pungkasnya.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya transparansi, komunikasi terbuka, serta kepatuhan terhadap standar pelayanan medis demi menjaga keselamatan pasien dan kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan.