Infotainment
Elizabeth Tunggadewi, Winner Indonesia’s Girl Junior 2024 yang Peduli Lingkungan
Elizabeth Tunggadewi menunjukkan bahwa generasi muda juga mampu menjadi suara bagi lingkungan. Sejak kecil, gadis yang akrab di sapa Dewi mengaku sudah ditanamkan rasa cinta terhadap alam oleh keluarganya. Dari cerita-cerita tentang lingkungan yang ia dengar sejak kecil, tumbuh kepedulian besar terhadap sungai dan ekosistem sekitar.
“Aku dari kecil memang sudah suka diceritain tentang lingkungan. Dari situ muncul rasa mencintai lingkungan dan akhirnya mulai melakukan advokasi untuk lingkungan,” ujar Dewi, saat ditemui Tim Wartahot, Ucok, di kawasan Depok.
Perjalanannya semakin berkembang setelah dirinya berhasil meraih gelar Indonesia’s Girl Junior 2024. Melalui platform tersebut, Elizabeth Tunggadewi mulai aktif mengangkat isu lingkungan yang menurutnya masih jarang dibahas oleh masyarakat luas.
“Akhirnya aku merasa ingin fokus mengadvokasi lingkungan. Sekarang aku memang aktif melakukan advokasi, terutama untuk Sungai Ciliwung,” katanya.
Kepeduliannya terhadap lingkungan tidak hanya sebatas kampanye di media sosial. Dewi turun langsung membersihkan sungai dan ikut bergelut dengan lumpur demi menjaga kebersihan lingkungan. Menurutnya, kondisi sungai yang kotor merupakan akibat dari ulah manusia sendiri.
“Kalau sungainya kotor, itu salah satunya karena perbuatan kita sendiri. Jadi kenapa harus jijik? Kita harus sadar bahwa itu akibat dari membuang sampah sembarangan dan pencemaran lingkungan,” jelasnya.
Dalam perjalanan advokasinya, Elizabeth Tunggadewi mendapat dukungan penuh dari keluarga, terutama kedua orang tuanya. Ia mengatakan bahwa sang mama dan papa selalu mendukung setiap langkah yang ia lakukan untuk menjaga lingkungan.
“Mama dan papa selalu ada di belakang aku untuk mendukung dan membuat aku berkembang di dunia lingkungan,” ungkapnya.
Tak hanya aktif dalam aksi lingkungan, Elizabeth Tunggadewi juga mendirikan sebuah rumah belajar bernama RBCC atau Rumah Belajar Ciliwung Ceria. Di tempat tersebut, ia mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak di bantaran Kali Ciliwung, tepatnya di kawasan Pejaten, Pasar Minggu.
“Aku founder Rumah Belajar Ciliwung Ceria. Di sana kami belajar bahasa Inggris sekaligus belajar menjaga lingkungan,” ujarnya.
Dewi juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin menjadi relawan untuk ikut bergabung mengajar dan melakukan kegiatan sosial lingkungan bersama Rumah Belajar Ciliwung Ceria / RBCC.
Selain itu, Dewi turut menyoroti isu ikan sapu-sapu yang banyak ditemukan di sungai. Menurutnya, ikan tersebut sebenarnya hanya berusaha bertahan hidup dan mampu beradaptasi dengan lingkungan yang tercemar.
“Ikan sapu-sapu itu tidak sepenuhnya salah. Mereka hanya bertahan hidup dan mampu beradaptasi dengan lingkungan yang tercemar, sehingga menjadi invasif,” jelasnya.
Di akhir wawancara, Dewi mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan sungai dan lingkungan sekitar.
“Ayo kita jaga lingkungan bersama, jangan buang sampah sembarangan apalagi ke sungai. Kalau sungainya bersih, kita semua juga yang bisa menikmatinya,” tutup Dewi. *** UCOK