News
Mayjen TNI (Purn.) Tatang Zaenudin, Meniti Pengabdian dari Kopassus hingga Misi Kemanusiaan
BANDUNG — Perjalanan pengabdian seorang prajurit tidak selalu berhenti pada pangkat dan jabatan. Hal itu tergambar dari perjalanan Mayjen TNI (Purn.) Tatang Zaenudin, yang selama puluhan tahun menjalani berbagai penugasan di lingkungan TNI hingga kemudian dipercaya mengemban tugas di Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).
Tatang mengawali karier militernya setelah menyelesaikan pendidikan Akademi Militer (Akmil) pada 1981. Ia kemudian menjalani sejumlah penugasan di lingkungan Komando Pasukan Khusus (Kopassus), termasuk sebagai Komandan Peleton Grup-3 Kopassus.
Dalam perjalanan kariernya di Kopassus, Tatang dipercaya mengemban sejumlah posisi, mulai dari perwira intelijen dan operasi, komandan kompi, hingga sejumlah jabatan komando dan pembinaan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan kepemimpinannya sebagai perwira TNI.
Selain tugas kedinasan, Tatang juga tercatat mengikuti sejumlah operasi, antara lain Operasi Timor-Timur pada 1984 dan 1987, Operasi Irian Jaya pada 1991, serta Operasi Timor-Timur pada 1999. Ia juga mengikuti berbagai kegiatan dan penugasan ke sejumlah negara, termasuk Thailand, Kanada, Arab Saudi, Filipina, India, Malaysia, dan Vietnam.
Dari Medan Operasi ke Pendidikan Strategis
Seiring perjalanan kariernya, Tatang tidak hanya berkutat pada tugas operasional. Ia kemudian menjalankan berbagai tugas di lingkungan pendidikan dan strategi militer.
Ia pernah dipercaya sebagai Kabagpam Sesko TNI, Pabandya-3/Pam Sdirum Kodiklat, Dosen Sesko TNI, Dosen Utama Sesko TNI, Paban-1/Nas Ditianbang Sesko hingga Kadep Strategi Sesko TNI.
Pada 2009, Tatang juga tercatat mengikuti Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLIII Lemhannas.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya dalam mengembangkan kemampuan kepemimpinan, pendidikan, serta pemahaman strategis yang tidak hanya bersumber dari pengalaman di lapangan.
Beralih ke Misi Pencarian dan Pertolongan
Babak lain dalam perjalanan Tatang terjadi ketika ia dipercaya bertugas di Basarnas. Pada 2013, ia menjabat Direktur Operasi dan Pelatihan Basarnas, sebelum kemudian dipercaya sebagai Deputi Bidang Operasi SAR Basarnas pada 2014.
Di lingkungan Basarnas, pengalaman yang sebelumnya banyak dibentuk melalui dunia militer diterapkan dalam tugas pencarian dan pertolongan. Tanggung jawab tersebut menuntut koordinasi berbagai unsur untuk menangani operasi yang berkaitan langsung dengan keselamatan manusia.
Pada September 2014, Tatang tercatat memperoleh kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal TNI.
Salah satu kegiatan yang tercatat dalam masa tugasnya adalah Latihan SAR Malindo ke-38 Tahun 2014, yang merupakan kerja sama Indonesia dan Malaysia dalam bidang pencarian dan pertolongan.
Pengabdian Tak Berhenti di Masa Purnatugas
Perjalanan Tatang Zaenudin memperlihatkan bagaimana pengalaman seorang prajurit dapat diterapkan dalam berbagai ruang pengabdian. Dari Kopassus, penugasan operasi, pendidikan strategis hingga Basarnas, setiap fase menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai perwira TNI.
Nilai disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan dan kemampuan mengambil keputusan menjadi bagian yang terbentuk sepanjang perjalanan tersebut.
Setelah memasuki masa purnatugas, pengalaman yang diperoleh selama puluhan tahun tetap menjadi bagian dari perjalanan kehidupannya.
Bagi Media Polisi Nasional (MPN), perjalanan Mayjen TNI (Purn.) Tatang Zaenudin menjadi gambaran mengenai pengabdian seorang prajurit yang tidak hanya menjalankan tugas di lingkungan militer, tetapi juga pernah berkontribusi dalam misi pencarian dan pertolongan.
Dari perjalanan tersebut, pengabdian dapat dimaknai bukan hanya melalui pangkat maupun jabatan yang pernah diemban, tetapi juga melalui pengalaman, kepemimpinan dan kontribusi yang diberikan kepada masyarakat.