Sosial

Nofel Saleh Hilabi Dorong Solusi Taman Puring, Kadin Siap Jembatani Pedagang dengan Pemprov DKI

Published

on

JAKARTA — Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Nofel Saleh Hilabi, turun langsung menemui para pedagang Pasar Taman Puring, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (30/9/2026), untuk mendengar aspirasi sekaligus mendorong penyelesaian atas ketidakpastian yang mereka hadapi pascakebakaran.

Kehadiran Nofel membawa pesan bahwa penataan kota dan perlindungan terhadap mata pencaharian masyarakat tidak semestinya dipertentangkan. Pembangunan ruang publik yang inklusif dapat berjalan bersama dengan keberlangsungan UMKM apabila pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat duduk bersama mencari desain yang tepat.

Kebakaran Pasar Taman Puring pada 28 Juli 2025 menghanguskan ratusan kios. Sebelum kebakaran, kawasan tersebut dihuni lebih dari 500 pedagang. Setahun setelah kejadian, sekitar 180 pedagang dilaporkan masih bertahan di sekitar lokasi dengan kondisi usaha yang jauh dari normal.

Nofel mengatakan persoalan Taman Puring bukan semata-mata persoalan bangunan pasar. Di balik setiap kios terdapat keluarga, pekerja, pemasok, dan mata rantai ekonomi masyarakat yang bergantung pada keberlangsungan aktivitas perdagangan.

“Yang kita perjuangkan bukan sekadar tempat berdagang. Di belakang setiap UMKM ada keluarga yang harus hidup, ada anak yang harus sekolah, ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi. Karena itu, mereka tidak boleh dibiarkan menghadapi ketidakpastian terlalu lama,” kata Nofel.

Sejalan dengan Agenda Penguatan Ekonomi Rakyat

Menurut Nofel, penyelesaian persoalan Taman Puring juga perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yakni agenda pemerintah untuk memperkuat ekonomi rakyat dan meningkatkan peran UMKM sebagai salah satu penggerak utama perekonomian nasional.

Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto terus mendorong penguatan UMKM melalui perluasan akses pembiayaan, pasar, digitalisasi, serta berbagai kebijakan yang diarahkan untuk memperkuat daya beli, kesempatan kerja, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Karena itu, menurut Nofel, semangat kebijakan tersebut perlu diwujudkan hingga tingkat daerah melalui perlindungan terhadap ruang usaha dan keberlangsungan mata pencaharian masyarakat.

“Kalau Indonesia ingin mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, maka ekonomi rakyat harus ikut tumbuh. UMKM jangan hanya disebut sebagai tulang punggung ekonomi, tetapi harus benar-benar diberikan ruang untuk hidup, berkembang, dan naik kelas,” ujar Nofel.

Ia menilai keberadaan ratusan pedagang Taman Puring memiliki efek ekonomi yang jauh lebih besar daripada jumlah kios semata.

“Bayangkan apabila ada 500 pelaku usaha dan masing-masing menghidupi keluarga serta melibatkan pekerja dan pemasok. Dampaknya bisa menyentuh ribuan masyarakat. Jadi ketika kita menyelamatkan UMKM, sesungguhnya kita sedang menjaga lapangan kerja, daya beli, dan perputaran ekonomi masyarakat,” katanya.

Taman Difabel dan UMKM Tidak Harus Dipertentangkan

Nofel juga menanggapi rencana penataan kawasan Taman Puring menjadi taman yang ramah bagi penyandang disabilitas.

Menurutnya, gagasan menghadirkan ruang publik yang inklusif merupakan hal positif. Namun pembangunan tersebut tidak harus menghilangkan fungsi ekonomi yang selama bertahun-tahun telah menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Ia mengusulkan konsep kawasan inklusif terpadu, yakni taman ramah difabel yang tetap menyediakan area khusus UMKM yang tertata, bersih, aman, dan memiliki standar pengelolaan yang baik.

“Kenapa harus memilih salah satu? Taman difabel bisa kita bangun dengan baik, sementara UMKM tetap diberikan tempat. Kita tata kiosnya, kita atur zonasinya, kita buat kawasan yang nyaman. Teman-teman difabel mendapatkan ruang publik yang layak, pedagang tetap mempunyai mata pencaharian, dan Jakarta memperoleh ruang kota yang hidup secara sosial sekaligus ekonomi,” kata Nofel.

Menurut dia, pendekatan kolaboratif seperti itu dapat menjadi salah satu model penataan kawasan perkotaan yang menggabungkan fungsi sosial dan ekonomi.

Kawasan Taman Puring dapat dikembangkan bukan sekadar sebagai taman atau pasar, tetapi sebagai ruang publik yang mempertemukan fungsi sosial, ekonomi, UMKM, aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, dan ruang hijau.

“Kita jangan menyelesaikan satu persoalan dengan menciptakan persoalan baru. Prinsipnya sederhana: pembangunan harus menghadirkan manfaat sebanyak-banyaknya bagi masyarakat,” ujarnya.

Aspirasi Pedagang Langsung Ditindaklanjuti

Dalam dialog tersebut, perwakilan pedagang menyampaikan bahwa mereka telah menempuh berbagai jalur untuk memperoleh kepastian, termasuk menyampaikan aspirasi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Kota Jakarta Selatan, hingga DPRD DKI Jakarta.

Di tengah mendengarkan aspirasi tersebut, Nofel langsung menghubungi pimpinan DPRD DKI Jakarta, Wibi Andrino, untuk menyampaikan kondisi yang dihadapi para pedagang Taman Puring sekaligus membuka komunikasi agar persoalan tersebut segera mendapatkan tindak lanjut.

Komunikasi itu disambut baik oleh Wibi. Dalam pembicaraan tersebut, Wibi menyampaikan kesiapan untuk menindaklanjuti aspirasi para pedagang, termasuk mendorong kunjungan bersama dengan Gubernur DKI Jakarta guna melihat langsung kondisi Taman Puring dan mencari solusi terbaik bagi keberlangsungan usaha para pelaku UMKM.

Bagi Nofel, langkah tersebut penting agar aspirasi yang diterimanya dari masyarakat tidak berhenti menjadi catatan, melainkan segera diteruskan kepada pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan.

“Saya datang bukan hanya untuk mendengar keluhan. Begitu teman-teman pedagang menyampaikan persoalannya, langsung kita buka komunikasi dengan pimpinan DPRD DKI. Alhamdulillah disambut baik. Kita ingin semua pihak turun melihat kondisi sebenarnya dan duduk bersama mencari solusi terbaik untuk UMKM Taman Puring,” kata Nofel.

Ia kemudian meminta koordinator pedagang dan ketua paguyuban untuk menyiapkan data lengkap mengenai pedagang yang terdampak, termasuk jumlah pedagang aktif dan kebutuhan mereka dalam rencana penataan kawasan.

“Siapkan seluruh datanya. Kita kawal bersama. Kalau memang harus bertemu dengan pemerintah daerah, kita datang bersama-sama. Tujuan kita bukan mencari siapa yang salah, tetapi memastikan ada jalan keluar sehingga pembangunan tetap berjalan dan pedagang tetap memiliki masa depan,” ujarnya.

Langkah tersebut menjadi bentuk tindak lanjut Nofel sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia dalam menjembatani aspirasi pelaku usaha dengan pemangku kebijakan. Setelah menerima aspirasi di lapangan, komunikasi dengan DPRD DKI langsung dibuka agar pembahasan dapat berlanjut ke tingkat pengambilan kebijakan.

Kadin Siap Menjadi Jembatan

Nofel kemudian mendorong agar persoalan Taman Puring segera dibawa ke meja dialog dengan melibatkan seluruh pihak terkait.

Sebagai organisasi dunia usaha, menurut Nofel, Kadin tidak hanya berkepentingan terhadap perusahaan besar dan investasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk ikut memperkuat pengusaha kecil dan menengah.

“Kadin siap menjadi jembatan. Saya minta koordinator pedagang menyiapkan data yang lengkap: berapa jumlah pedagang, siapa saja yang masih aktif, apa kebutuhan mereka, dan bagaimana kondisi usahanya. Ketua paguyuban juga kita ajak. Setelah datanya lengkap, kita duduk bersama pemerintah dan mencari solusi yang konkret,” katanya.

Nofel menekankan bahwa penyelesaian harus dilakukan melalui dialog dan berdasarkan data sehingga pemerintah dapat melakukan penataan kawasan, sementara keberlangsungan mata pencaharian masyarakat juga mendapatkan perhatian.

Dorong UMKM Naik Kelas

Nofel mengatakan solusi bagi pedagang Taman Puring sebaiknya tidak berhenti pada penyediaan kembali tempat berdagang.

Momentum penataan kawasan dapat digunakan untuk melakukan transformasi UMKM, mulai dari perbaikan desain kios, legalitas usaha, digitalisasi pembayaran, pemasaran daring, akses pembiayaan, peningkatan kualitas produk hingga pendampingan manajemen usaha.

“Kalau nanti kawasan ini ditata kembali, jangan sekadar mengembalikan pedagang ke kondisi sebelum kebakaran. Kita harus membuat mereka lebih baik. Kiosnya lebih tertata, usahanya lebih modern, akses pembiayaannya terbuka, masuk digital, dan omzetnya meningkat. Itu yang dimaksud UMKM naik kelas,” ujar Nofel.

Ia menilai kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta, Kadin, komunitas pedagang, lembaga pembiayaan, dan sektor swasta dapat menjadikan Taman Puring sebagai contoh revitalisasi UMKM perkotaan yang inklusif.

Dari Taman Puring untuk Ekonomi Rakyat

Nofel berharap persoalan Taman Puring dapat segera menemukan titik temu melalui komunikasi langsung antara pedagang, DPRD, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Menurutnya, pembangunan ekonomi nasional pada akhirnya harus dapat dirasakan hingga tingkat paling bawah.

“Pertumbuhan ekonomi tidak hanya berbicara tentang angka. Ukurannya juga sederhana: apakah masyarakat masih bisa bekerja, apakah pedagang masih bisa mencari nafkah, apakah UMKM mendapatkan kesempatan berkembang, dan apakah keluarga mereka memiliki masa depan yang lebih baik.”

“Semangat pemerintah untuk memperkuat ekonomi rakyat harus kita terjemahkan menjadi tindakan nyata. Kadin siap membantu menjembatani. Yang kita cari bukan siapa yang menang atau kalah, tetapi solusi agar pembangunan berjalan, ruang publik menjadi lebih baik, dan masyarakat tetap bisa mencari nafkah,” pungkas Nofel Saleh Hilabi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version