News
Ritual Cepuri di Parangkusumo, Perjalanan Spiritual Joko Saputra dan Kusumo Suro Menyelami Tradisi Jawa
Wartahot – Cepuri Parangkusumo berdiri tenang di pesisir selatan Yogyakarta, menghadap Samudra Hindia yang sejak berabad-abad dipercaya menyimpan kekuatan besar. Bangunan tua ini bukan sekadar saksi sejarah, tetapi ruang pertemuan antara legenda, praktik spiritual, dan tradisi masyarakat Jawa yang masih dijalani hingga kini. Lampu temaram menyoroti dinding kusam dan berlumut, sementara pasir halus menempel di sudut-sudut bangunan. Sunyi menjadi bagian penting dari suasana malam Selasa Kliwon, ketika angin laut berhembus dingin dan debur ombak terdengar samar dari kejauhan.
Malam itu, dua praktisi supranatural, Joko Saputra dan Kusumo Suro, menjalani ritual Cepuri. Prosesi berlangsung dalam kesederhanaan dan tanpa keramaian. Doa-doa dilantunkan perlahan dengan bahasa Jawa halus, mengalir seiring suara ombak yang menambah khidmatnya suasana. Sesaji sederhana—bunga, makanan, dan perlengkapan ritual lain—diletakkan secukupnya sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur. Tidak ada kemewahan; kesederhanaan menjadi pesan utama, selaras dengan nilai hidup masyarakat Jawa.
Bangunan Cepuri memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Jawa. Tempat ini diyakini sebagai lokasi pertemuan Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram, dengan Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan. Dari kisah ini lahir simbol hubungan antara manusia dan kekuatan alam. Hingga kini, Cepuri menjadi tujuan peziarah dan bagian dari upacara Labuhan Keraton Yogyakarta, terutama pada malam Selasa Kliwon yang dianggap tepat untuk perenungan dan penyelarasan diri dengan alam.
Keheningan menjadi bagian penting dari ritual. Tidak ada instruksi keras atau penanda resmi, namun setiap gerak dan doa dijalani dengan kesadaran dan penghormatan. Diam menjadi bentuk paling nyata dari penghormatan terhadap ruang sakral yang telah dijaga lintas generasi.
Menjelang dini hari, prosesi ritual berakhir tanpa penanda resmi. Doa terakhir dilantunkan perlahan, sebelum satu per satu meninggalkan area Cepuri. Sunyi kembali menguasai tempat itu, meninggalkan kesan bahwa tradisi Jawa tetap hidup—bukan melalui keramaian, tetapi lewat ketenangan dan refleksi yang dijaga dari generasi ke generasi.
Setelah prosesi ritual cepuri selesai, Joko Saputra dan Kusumo Suro berbagi pandangan mereka. Menurut Joko, ritual Cepuri bukan sekadar praktik supranatural, tetapi cara menata diri dan menjaga keseimbangan batin.
“Cepuri mengajarkan keheningan. Di sini, manusia belajar merendahkan ego dan mengingat asal-usulnya,” ujarnya. Setiap gerak dan doa dijalani dengan niat menjaga keseimbangan, bukan untuk mencari keunggulan pribadi.
*Menyelami Tujuan Ritual Cepuri: Kesederhanaan, Spiritual, dan Kehidupan
Ritual Cepuri di Parangkusumo bukan sekadar praktik supranatural atau atraksi budaya. Bagi Joko Saputra dan Kusumo Suro, ritual ini menjadi sarana menata diri, menjaga keseimbangan batin, serta menyelaraskan hubungan manusia dengan alam dan leluhur.
“Banyak orang datang ke Cepuri dengan niat memohon kekayaan, jodoh, atau kehidupan yang lebih baik,” kata Joko. Namun, bagi Joko, esensi ritual jauh melampaui permintaan itu. “Ritual ini mengingatkan kita tentang etika hidup—bagaimana manusia bersikap terhadap alam dan sejarahnya,” ujarnya.
Kesadaran batin menjadi inti dari setiap doa dan gerak yang dilakukan, bukan sekadar untuk memenuhi keinginan pribadi. “Cepuri mengajarkan keheningan, di sini manusia belajar merendahkan ego, merenungkan asal-usul, dan menyesuaikan diri dengan alam serta leluhur,” lanjut Joko.
Setelah prosesi ritual Cepuri dimohonkan, kedua praktisi melanjutkan ritual di pantai selatan. Langkah ini bertujuan menyelaraskan diri dengan izin utama yang telah dipohonkan di Cepuri, sekaligus menguatkan energi spiritual dari doa yang telah dilantunkan.
Di tengah arus modernisasi, ritual Cepuri tetap relevan sebagai penanda identitas budaya, sekaligus sarana refleksi bagi masyarakat. Tradisi ini mengajarkan bahwa kekayaan spiritual dan hidup yang lebih baik bukan dicapai melalui keramaian atau kemegahan, melainkan lewat kesederhanaan, ketenangan, dan kesadaran batin yang dijaga turun-temurun.
Ritual Cepuri bukan sekadar upacara, tetapi media untuk memahami diri, menghormati alam, dan menegaskan nilai-nilai luhur masyarakat Jawa.***