Entertainment

Alumni UI Nobar “Rumah Tanpa Cahaya” di Plaza Senayan, Dukung Ira Wibowo dan Film Indonesia

Published

on

Jakarta — Suasana hangat terasa saat para alumni Universitas Indonesia menggelar nonton bareng (nobar) film Rumah Tanpa Cahaya di Plaza Senayan, Kamis, 12 Februari 2026. Selain jadi ajang kumpul dan silaturahmi, acara ini juga jadi bentuk dukungan nyata untuk film Indonesia, apalagi salah satu pemainnya adalah Ira Wibowo, alumni FISIP UI.

Sekitar 30 alumni FISIP hadir, ditambah puluhan rekan dari Tarakanita yang terus berdatangan. Kebersamaan ini terasa makin spesial karena bisa menyaksikan langsung penampilan Ira dengan karakter yang berbeda dari biasanya.

Achmad Akbar, perwakilan alumni yang hadir, membagikan kesannya setelah menonton film tersebut.

“Rumah Tanpa Cahaya ini bagus sekali, apalagi tayangnya menjelang bulan Ramadhan ya. Dan kami cukup surprise bahwa dalam film ini, Ira teman kami di kampus FISIP UI mainnya dengan profile yang baru ya. Profile yang baru, yang beda. Sebenarnya agak mengharukan, cuman kan kita kalau meneteskan air mata malu juga gitu. Jadi ini sangat recommended untuk ditonton, untuk keluarga, hikmahnya cukup baik untuk bagaimana menjalani kehidupan dari yang sulit. Apalagi setelah ditinggal lama oleh ibu yang rupanya menjadi perekat dan fondasi ekonomi keluarga tersebut. Dan setelah ibunya tidak ada, ternyata catatan itu tetap menghidupi keluarga yang ditinggalkan.”

Ira Wibowo sendiri tampak terharu melihat dukungan sahabat-sahabat lamanya yang datang khusus untuk nobar.

“Aku sangat-sangat berterima kasih sahabat aku, Akbar ini emang selalu mendukung film Indonesia. Juga teman-teman FISIP 86 lainnya, mereka semuanya hadir untuk dukung film Indonesia, khususnya dalam film Rumah Tanpa Cahaya. Buat aku juga emang seperti Akbar bilang gitu ya, tampil dengan suasana yang sangat beda karena ini memang baru pertama kali kayaknya aku main dengan memerankan tokoh ibu yang benar-benar sangat tenang, sangat damai. Wajahnya itu tidak pernah tidak tersenyum walaupun tipis tapi selalu dalam keadaan apapun itu tetap tersenyum karena dia hatinya selalu bersyukur.”

Salah satu adegan yang paling membekas bagi para alumni adalah momen ketika sosok ibu dalam film meninggal dalam keadaan sujud.

“Yang paling mengesankan ya pada saat meninggal dalam keadaan sujud itu.”

Menurut Akbar, film ini juga menyimpan pesan moral yang kuat, terutama untuk anak muda.

“Ada pesan penting yang saya tangkap di dalam film tadi itu, buat anak muda yang semangat tetap menjadi seorang pekerja di tengah situasi orang mencari mentalitas menerabas, mencari kekuasaan politik dengan cara-cara yang mudah, jalan pintas. Ini memenangkan pesan bahwa anak muda itu berani dan terus berusaha entrepreneur.”

Pesan lain yang tak kalah penting juga disampaikan lewat alur cerita film.

“Mencari uang itu mesti halal. Kemudian juga porsi rejeki itu sudah ada masing-masing. Jadi dalam hidup juga gak boleh serakah. Menjalani dengan penuh syukur, insya Allah akan diberi kemudahan.”

Film yang di awal menampilkan konflik dua anak dengan karakter bertolak belakang ini, menurutnya, ditutup dengan akhir yang hangat.

“Untungnya film ini berakhir dengan happy ending. Awalnya saya pikir akhirnya ribut atau bapaknya meninggal, ternyata tidak. Ibunya tetap somehow hadir lewat catatan itu. Ataupun sebetulnya di hati anak-anaknya dan di hati suaminya, ibunya tetap selalu ada.”

Soal kekompakan alumni, Akbar mengaku tak ada kesulitan mengumpulkan teman-teman lama untuk hadir.

“Saya rasa sih gak ada kesulitan, mereka cukup kompak. Dari dulu sampai sekarang gak pernah putus silaturahim. Walaupun punya kesibukan masing-masing, sekarang justru lebih mudah kumpul karena anak-anak sudah besar dan banyak yang sudah mulai pensiun.”

Nobar ini akhirnya bukan cuma soal menonton film bersama, tapi juga jadi momen nostalgia, dukungan untuk karya anak bangsa, dan bukti bahwa kebersamaan alumni UI tetap terjaga sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version