Sosial

Nayyara Azarine, Puteri Remaja Indonesia Jakarta 2025, Ajak Lebih Peduli Dukungan Psikososial Anak

Published

on

Jakarta – Puteri Remaja Indonesia Jakarta 2025, Nayyara Azarine yang akrab disapa Arin, menunjukkan komitmennya dalam mendorong pentingnya dukungan psikososial anak sebagai bagian dari proses pemulihan anak yang menghadapi tantangan kesehatan serius.

Di usia 18 tahun, Arin memanfaatkan platformnya bukan hanya sebagai simbol representasi generasi muda, tetapi juga sebagai ruang untuk menghadirkan dampak sosial yang nyata. Ia percaya, pemulihan anak tidak cukup hanya lewat intervensi medis, tetapi juga membutuhkan kehadiran emosional yang konsisten, lingkungan yang suportif, dan pengalaman positif yang menumbuhkan harapan.

Lewat berbagai kegiatan kebersamaan, Arin memperlihatkan bahwa perhatian sederhana seperti menemani anak bermain, berbincang hangat bersama keluarga, hingga memberi ruang untuk berekspresi secara kreatif, bisa membantu memperkuat kondisi psikologis anak selama masa pemulihan.

“Anak-anak yang sedang berjuang tetap berhak merasakan masa kecil yang utuh. Dukungan emosional bukan pelengkap, tetapi bagian dari proses pemulihan itu sendiri,” ujar Arin.

Perjalanan Arin hingga meraih gelar Puteri Remaja Indonesia Jakarta 2025 juga melalui proses pembentukan karakter yang panjang. Ia mengaku pernah menjadi pribadi yang pendiam dan cenderung introvert. Namun, empati yang ia miliki justru tumbuh menjadi kekuatan yang mendorongnya aktif di kegiatan sosial dan advokasi.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah dan melanjutkan studi di Fakultas Hukum , Arin berharap advokasi dukungan psikososial anak semakin dikenal sebagai isu penting yang perlu perhatian lintas sektor, mulai dari keluarga, komunitas, hingga para pembuat kebijakan.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu mengambil peran dalam isu sosial, meski dimulai dari langkah kecil. Menurutnya, perubahan besar sering lahir dari kehadiran yang tulus dan konsisten.

Melalui advokasi berbasis empati ini, Arin menegaskan bahwa kebahagiaan anak bukan hal sekunder. Kebahagiaan adalah fondasi yang membantu mereka tetap memiliki semangat, rasa percaya diri, dan harapan untuk masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version