Infotainment
Ry Hyori Ajak Generasi Muda Jauhi Narkoba Lewat Kegiatan Olahraga Padel dan Edukasi Keluarga
Jakarta – Kegiatan olahraga padel yang digelar pada akhir pekan ini menghadirkan konsep yang unik dengan memadukan aktivitas fisik dan edukasi. Tidak hanya sebuah turnamen, acara ini juga menjadi ajang diskusi penting tentang peran keluarga dalam menghadapi ancaman narkoba. Dalam kesempatan tersebut, Hyori hadir sebagai narasumber dalam podcast bersama BNN RI dan Pendeta Yerry Pattinasarany.
Hyori mengungkapkan bahwa kegiatan ini dirancang untuk lebih dari sekadar kompetisi olahraga. Ia menyebutkan, “Today we had a podcast regarding this event, dan topiknya tentang keluarga dan peran keluarga dalam menghadapi drugs dan hal-hal negatif.”
Menurutnya, pendekatan edukasi yang dikemas dengan konsep olahraga sehat ini sangat menarik. “Menarik ya, di tengah turnamen ada edukasi bukan cuma soal drugs, tapi juga keluarga. Jadi budaya olahraga sehat ini bisa terkoneksi dengan kampanye BNN tentang war on drugs,” tambahnya.
Hyori juga menekankan bahwa keluarga merupakan benteng utama dalam melindungi anak-anak dari pengaruh negatif, seperti narkoba. “Family itu seperti barrier, seperti great wall yang melindungi kita dari hal-hal negatif seperti narkoba, lingkungan yang tidak baik, dan pergaulan yang salah,” jelasnya.
Ia juga berbagi pengalamannya tentang kedekatan dan komunikasi dalam keluarganya yang dianggapnya sangat berperan dalam membentuk karakter diri. “Keluarga kami sangat komunikatif, sering ngobrol banyak hal, baik positif maupun negatif. Orang tua juga sering menasihati, jadi saya terbiasa disiplin dan tegas terhadap aturan,” tambahnya.
Pendeta Yerry Pattinasarany yang turut hadir dalam diskusi tersebut juga menyampaikan pentingnya pendekatan kreatif untuk generasi muda. “Anak muda sekarang butuh pendekatan yang kreatif. Tidak bisa lagi hanya duduk lihat slide. Dengan konsep seperti ini—olahraga, komunitas, dan diskusi—pesan jadi lebih mudah diterima,” ujarnya.
Pendeta Yerry, yang merupakan mantan pengguna narkoba selama sembilan tahun, juga berbagi pengalaman pribadi. Menurutnya, perubahan dalam hidupnya sangat dipengaruhi oleh sosok ayah yang hadir dalam kehidupannya. “Ayah saya memilih meninggalkan kariernya untuk hadir sebagai ayah. Itu yang jadi titik balik saya. Bicara soal pencegahan narkoba tanpa keluarga itu seperti meninju angin,” tegasnya.
Selain itu, Pendeta Yerry juga menyoroti peran keluarga dalam proses pemulihan, seperti yang terlihat dalam kasus Coki Pardede yang menunjukkan perubahan positif setelah mendapatkan dukungan dari keluarga. “Ketika orang tua mulai hadir, ada perubahan. Bahkan kalimat sederhana dari ibu bisa jadi kekuatan besar untuk bangkit,” ujarnya.
Hyori menanggapi dengan berbagi cara dirinya menjauhi pengaruh negatif. “Pertama harus takut akan Tuhan, kedua dekat dengan keluarga, dan jangan takut bilang tidak saat ditawarkan narkoba. Karena itu bukan solusi, justru menambah masalah,” kata Hyori.
Di akhir sesi, Hyori memberikan pesan kepada generasi muda untuk berani menjaga diri dan masa depan mereka. “Untuk Gen Z dan Gen Alpha, jangan takut menolak narkoba. Kita harus mencintai diri sendiri dan sadar bahwa itu bukan jalan keluar,” tutupnya.
Pendeta Yerry pun menegaskan kembali pentingnya peran keluarga dalam mencegah narkoba. “Masa depan bukan hanya di tangan anak muda, tapi juga peran ayah. Narkoba adalah mimpi buruk bagi keluarga, tapi cinta dalam keluarga adalah mimpi buruk bagi narkoba,” tutupnya dengan tegas.
Kegiatan ini menjadi contoh yang kuat bagaimana kolaborasi antara olahraga, komunitas, dan edukasi dapat memperkuat kampanye pencegahan narkoba dengan pendekatan yang lebih relevan bagi generasi muda.