News
Dr Wenny Tan Soroti Tren Rhinoplasty usai Wajah Ria Ricis Alami Perubahan Mirip Artis Lain
Perubahan penampilan Ria Ricis setelah menjalani prosedur rhinoplasty menjadi sorotan publik dan ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak netizen menilai bentuk wajah Ricis ikut berubah setelah operasi hidung tersebut.
Menanggapi hal itu, dokter estetika Dr. Wenny Tan menjelaskan bahwa perubahan pada hidung memang dapat memengaruhi keseluruhan tampilan wajah seseorang karena posisi hidung berada tepat di tengah wajah.
“Biasanya kalau kita melakukan rhinoplasty memang membawa perubahan yang cukup bermakna dari keseluruhan wajah kita. Karena hidung letaknya di tengah muka,” ujar Dr. Wenny.
Menurutnya, tujuan utama rhinoplasty bukan sekadar membuat hidung lebih tinggi atau mancung, melainkan menciptakan bentuk yang harmonis dengan struktur wajah pasien.
“Seseorang punya keunikan wajah masing-masing. Jadi sebisa mungkin hasil rhinoplasty dibuat harmonis dengan keseluruhan wajah,” jelasnya.
Belakangan, netizen juga membandingkan penampilan terbaru Ria Ricis dengan sejumlah artis lain. Ada yang menyebut dari samping Ricis terlihat mirip Irish Bella, sementara dari depan dinilai menyerupai Anya Geraldine.
Dr. Wenny menegaskan bahwa setiap tindakan estetika tetap memiliki risiko medis, termasuk rhinoplasty. Risiko tersebut bisa berupa infeksi, pembengkakan, memar, hingga perubahan bentuk hidung apabila proses penyembuhan tidak berjalan optimal.
“Tindakan apa pun pasti ada risikonya. Karena itu pasien harus mengikuti semua anjuran dokter setelah operasi agar risiko bisa diminimalisasi,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa hasil rhinoplasty umumnya baru terlihat sempurna setelah enam bulan pascaoperasi. Pada tiga bulan pertama, area hidung biasanya masih mengalami pembengkakan ringan.
“Kalau saya lihat, hasil rhinoplasty paling tidak bisa terlihat optimal sekitar enam bulan, karena tiga bulan pertama masih ada proses penyembuhan,” ujarnya.
Terkait ketahanan hasil operasi, Dr. Wenny menyebut rhinoplasty pada dasarnya bersifat permanen, terutama bila menggunakan implan. Namun jika menggunakan bahan biologis dari tubuh sendiri seperti tulang rawan atau tulang rusuk, bentuk hidung masih bisa berubah seiring waktu.
“Bahan biologis bisa saja diserap tubuh beberapa tahun ke depan sehingga ada sedikit perubahan, misalnya hidung menjadi lebih turun,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan masyarakat agar tidak memiliki ekspektasi berlebihan terhadap hasil operasi hidung. Menurutnya, setiap orang memiliki batas struktur kulit dan jaringan yang harus dihormati demi menghindari komplikasi.
“Kita tidak bisa mengoperasi melebihi kekuatan kulit. Limit diri kita harus dihormati. Kalau dipaksakan terlalu tinggi, risiko komplikasi bisa terjadi,” tegasnya.
Dr. Wenny juga menyoroti fenomena artis yang menjalani operasi hidung berkali-kali demi mendapatkan bentuk tertentu. Ia mengatakan perubahan drastis biasanya tidak didapat hanya dari satu kali tindakan.
“Kalau melihat artis-artis yang hidungnya berubah drastis, biasanya operasinya bertahap, tidak satu kali langsung tinggi,” pungkasnya.