News
Junkyard Collective Bali: Galeri Gratis di Ubud, Seni Keren dari Sampah Plastik!
Siapa bilang sampah plastik cuma bikin lingkungan kumuh? Di tangan delapan seniman Bali dan luar negeri, barang yang satu ini berubah jadi karya seni yang bikin kita mikir.
Mereka bergabung dalam Junkyard Collective Bali. Lokasinya di gang kecil Jalan Raya Sanggingan, Ubud. Yang bikin keren? Galeri ini gratis! Nggak ada tiket. Nggak ada harga. Nggak ada pretensi. Yang ada adalah plastik. Dan sebuah peringatan.
Di balik kolektif ini ada Dr. I Made Jodog, akademisi sekaligus seniman yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor ISI Bali. Tapi di ruang kecil di Ubud itu, ia hanya seorang seniman yang resah. Kegelisahannya dimulai sejak akhir tahun 1990-an, saat ia memimpin organisasi pemuda di desanya. Sungai di bawah rumahnya dipenuhi sampah. Ia bersihkan. Ia sadarkan warga. Tapi plastik nggak pernah benar-benar pergi.
“Kami tidak berpikir tentang uang,” kata Jodog. “Kami berpikir tentang kesadaran.”
Salah satu karya paling mencuri perhatian adalah ubur-ubur raksasa yang terbuat dari kantong plastik. Melayang-layang ditiup kipas. Cantik, tapi sekaligus bikin merinding. “Ketika ubur-ubur menyengat, Anda terbangun,” ujar Jodog. “Ubur-ubur ini dirancang untuk menyengat kesadaran Anda.”
Ada juga karya Arde, mantan mahasiswa Jodog yang sudah lama mengeksplorasi plastik sebagai medium lukis. Hasilnya? Lukisan yang keliatan kayak kanvas biasa, tapi ternyata dari plastik disetrika berlapis-lapis. Wayan Suja bikin patung perempuan yang melambangkan alam. Di bawah tubuhnya, sampah plastik udah mengakar kayak rumput. Di atas tubuhnya, ia menanam terong dan cabai sungguhan. Pesannya ngena banget: makanan kita tumbuh di dalam sampah yang kita buang.
Prangawardana bikin lelakut, si penjaga sawah versi Bali, tapi dari plastik. Tujuannya? Mau menumbuhkan rasa takut. Bukan takut hantu, tapi takut buang sampah sembarangan.
Jodog juga punya harapan untuk pemerintah Bali yang masih berjibaku dengan masalah sampah. “Kami berharap pemerintah melihat bahwa seni bisa menjadi jembatan untuk menumbuhkan kesadaran publik,” ujarnya. “Kami tidak protes dengan cara yang keras. Kami mengungkapkan kegelisahan melalui karya. Tapi kami berharap ada perhatian, ada fasilitasi, dan ada dukungan untuk gerakan-gerakan seperti ini.”
Junkyard Collective Bali terbuka untuk siapa saja. Turis, ekspat, anak sekolah, tetangga, siapapun. Nggak ada target komersial. Murni idealisme. Jodog berharap gerakan ini tumbuh. Ia sangat terbuka untuk seniman dari negara lain yang ingin bergabung. “Kami harapkan suatu saat akan menjadi besar, bahkan bisa mendunia,” ujarnya.
Buat kalian yang lagi liburan ke Ubud atau nyari tempat hits yang beda dari biasanya, Junkyard Collective Bali wajib masuk daftar. Lokasinya di Jl. Raya Sanggingan Gang Bintang, Ubud. Masuk gratis. Datang. Lihat. Bertanya. Dan pulang dengan kesadaran baru tentang sampah plastik. Karena pada akhirnya, seni nggak cuma buat dipandang. Tapi juga buat direnungkan. (Latto)