News
BBTF Catat Rp6,9 Triliun, Pengamat: Jika Industri Sedang Baik-Baik Saja, Mengapa Masih Bicara Bertahan?
BALI – Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 kembali ditutup dengan angka besar. Selama tiga hari penyelenggaraan di kawasan Nusa Dua, Bali, pameran perjalanan wisata terbesar Indonesia itu mencatat estimasi transaksi mencapai Rp6,9 triliun.
Angka tersebut memang terdengar impresif.
Namun justru karena besar, sejumlah pelaku industri mempertanyakan hal yang lebih sederhana:
Jika industri benar-benar sedang baik-baik saja, mengapa narasi yang muncul justru semakin sering berbicara soal adaptasi, resiliensi, hingga strategi bertahan?
Fakta lain yang ikut menjadi sorotan adalah nilai transaksi tahun ini tercatat turun dibanding penyelenggaraan sebelumnya yang mencapai Rp7,84 triliun.
Pengamat sekaligus pelaku pariwisata Bali, Giostanovlatto, melihat penurunan tersebut tidak serta merta harus dibaca sebagai sinyal negatif. Namun menurutnya, perubahan pola pasar menunjukkan bahwa industri sedang menghadapi realitas baru yang jauh lebih kompleks.
“Yang menarik sebenarnya bukan hanya angka Rp6,9 triliunnya. Yang lebih menarik adalah mengapa buyer sekarang lebih banyak datang dari Asia dan Australia dibanding fokus lama ke Eropa atau Amerika. Ini menunjukkan industri sedang beradaptasi terhadap perubahan besar yang sedang terjadi,” kata Giostanovlatto.
Menurutnya, meningkatnya biaya perjalanan, perubahan perilaku wisatawan global, serta ketidakpastian geopolitik membuat industri tidak lagi bergerak dengan pola yang sama seperti beberapa tahun sebelumnya.
Dalam situasi tersebut, travel fair seperti BBTF menurutnya tidak lagi hanya berfungsi sebagai mesin pertumbuhan.
“Kalau kita melihat diskusi industri sekarang, kata-kata yang muncul justru adaptation, resilience, shock absorber, dan market adjustment. Itu menunjukkan industri sedang melakukan penyesuaian besar,” ujarnya.
Selain soal perubahan pasar, Giostanovlatto juga menyoroti penggunaan istilah “nilai transaksi” yang menurutnya sering kali menciptakan persepsi berbeda di mata publik.
“Masalahnya bukan pada angkanya. Tetapi publik sering mendengar kata transaksi lalu membayangkan seluruh uang sudah berpindah tangan. Padahal ada business matching, komitmen awal, letter of intent, dan berbagai bentuk kerja sama yang realisasinya membutuhkan waktu,” katanya.
Menurutnya, informasi mengenai realisasi transaksi justru sering kali jauh lebih sulit ditemukan dibanding angka transaksi yang diumumkan.
“Pada akhirnya industri tidak hidup dari angka konferensi pers. Industri hidup dari wisatawan yang benar-benar datang, tingkat okupansi yang meningkat, kontrak yang berjalan, dan dampak ekonomi yang benar-benar terasa,” jelasnya.
BBTF ke-12 tahun ini menghadirkan buyers dari 44 negara dengan fokus baru pada penguatan gastronomi Indonesia serta perluasan pasar ke berbagai kawasan baru.
Meski tetap menilai BBTF memiliki peran penting bagi industri pariwisata nasional, Giostanovlatto menilai ukuran keberhasilan industri mulai perlu berubah.
“Mungkin pertanyaannya bukan lagi berapa triliun transaksi diumumkan setiap tahun. Tetapi apakah angka-angka itu benar-benar menghasilkan perubahan yang bisa dirasakan industri dan masyarakat yang hidup dari pariwisata itu sendiri,” tutupnya.