Entertainment

Aldo Sianturi Bahas Perubahan Ekosistem Musik, Algoritma, A&R, hingga Tantangan Musisi di Era Digital

Published

on

PENULIS : KATASIBOY

JAKARTA, 18 Juli 2026 – Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam industri musik. Jika dahulu perusahaan rekaman memegang kendali utama dalam proses produksi, promosi, hingga distribusi karya, kini siapa pun dapat merilis lagu secara mandiri melalui berbagai platform digital.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Di tengah derasnya arus informasi dan jutaan karya musik yang dirilis setiap hari, tantangan terbesar bagi musisi bukan lagi sekadar mendapatkan akses untuk merilis lagu, melainkan bagaimana karya tersebut mampu mendapatkan perhatian publik.

Hal tersebut menjadi salah satu topik pembahasan dalam perbincangan bersama Aldo Sianturi, seorang praktisi yang telah lama berkecimpung di industri musik Indonesia. Pengalamannya mencakup label rekaman, distribusi digital, pengembangan talenta, hingga perannya saat ini sebagai Music Business Consultant.

Menurut Aldo, perubahan terbesar dalam industri musik bukan sekadar peralihan dari format CD ke layanan streaming, melainkan perubahan kekuasaan dalam ekosistem musik.

“Perubahan terbesar bukanlah perpindahan dari CD ke streaming. Perubahan terbesar adalah perpindahan kekuasaan,” ujar Aldo.

Ia menjelaskan, dahulu industri musik banyak dikendalikan perusahaan rekaman yang menentukan siapa yang direkam, dipromosikan, dan didistribusikan. Kini, kekuasaan tersebut semakin bergeser kepada platform digital dan konsumen.

“Sekarang siapa pun bisa merilis lagu, tetapi tantangannya bukan lagi akses masuk. Tantangannya adalah bagaimana mendapatkan perhatian. Kita hidup di era attention economy, bukan lagi distribution economy,” katanya.

Algoritma dan Perubahan Kebiasaan Mendengarkan Musik

Aldo menilai, hubungan antara manusia dan algoritma dalam industri musik berjalan dua arah. Algoritma belajar dari perilaku manusia, namun pada saat yang sama algoritma juga memengaruhi pilihan pendengar melalui rekomendasi musik.

“Manusia menciptakan algoritma, tetapi algoritma kemudian menciptakan kebiasaan baru dalam mendengarkan musik,” jelasnya.

Ia juga menyoroti kesalahpahaman sejumlah musisi yang menganggap algoritma sebagai semacam tombol ajaib untuk membuat lagu menjadi populer.

Menurut Aldo, algoritma bukanlah sistem yang menyukai sebuah lagu, melainkan sistem yang membaca perilaku pengguna.

“Algoritma hanyalah sistem distribusi perhatian. Algoritma tidak menyukai lagu. Algoritma menyukai perilaku pengguna,” ujarnya.

Perilaku tersebut dapat terlihat dari durasi pendengar menyimak lagu, apakah lagu disimpan, dibagikan, atau kembali diputar oleh pengguna.

Karena itu, menurut Aldo, algoritma tidak secara langsung menciptakan sebuah hit. Algoritma hanya dapat mempercepat penyebaran sebuah karya yang telah menunjukkan sinyal positif dari pendengar.

“Kalau lagunya tidak menarik, algoritma hanya akan memperlihatkan kegagalannya lebih cepat. Sebaliknya, lagu yang kuat akan mendapat momentum lebih cepat karena perilaku pendengar mendukungnya,” tuturnya.

Pentingnya A&R dalam Menemukan Talenta

Dalam industri musik, peran Artists & Repertoire atau A&R juga menjadi bagian penting dalam menentukan arah pengembangan artis dan karya.

Aldo menjelaskan, repertoire merupakan proses memilih karya dan talenta yang layak menjadi investasi. Proses tersebut tidak hanya berkaitan dengan mencari penyanyi yang memiliki kemampuan vokal.

“Dia mencari kombinasi antara karakter, lagu, visi, dan peluang pasar. Kalau marketing menjual produk, repertoire membantu menentukan produk apa yang layak dijual,” katanya.

Saat menilai potensi artis yang belum memiliki angka streaming besar, Aldo mengaku melihat tiga hal utama, yakni identitas, repertoar, dan konsistensi.

Menurutnya, seorang artis harus memiliki karakter yang jelas, karya yang memiliki kualitas untuk bertahan, serta konsistensi karena karier musik dibangun dalam jangka panjang.

“Streaming bisa dibeli. Karakter tidak,” tegasnya.

Data dan Insting Harus Berjalan Bersama

Di era industri musik yang semakin berbasis data, Aldo tidak melihat data dan insting sebagai dua hal yang harus dipertentangkan.

“Data menjelaskan apa yang sudah terjadi. Insting mencoba melihat apa yang belum terjadi,” ujarnya.

Menurut Aldo, jika industri hanya mengandalkan data, maka pelaku industri akan selalu mengejar sesuatu yang sudah terjadi. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan insting, keputusan yang diambil dapat kehilangan objektivitas.

“Keputusan terbaik selalu berada di pertemuan keduanya,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa data tidak selalu mampu memprediksi inovasi. Sebab, sesuatu yang benar-benar baru belum tentu memiliki sejarah atau pola yang dapat dibaca oleh data.

“Data selalu melihat sejarah. Padahal inovasi belum punya sejarah,” jelasnya.

Jangan Hanya Mengejar Viral

Aldo juga menilai industri musik saat ini terlalu sibuk mengejar popularitas sesaat melalui viralitas.

Menurutnya, viral memang dapat menghasilkan perhatian, tetapi bisnis musik yang kuat dibangun melalui katalog.

“Viral hanya menghasilkan perhatian. Katalog menghasilkan pendapatan puluhan tahun,” ujarnya.

Ia menilai lagu-lagu yang memiliki nilai jangka panjang dapat terus menghasilkan pendapatan bahkan puluhan hingga ratusan tahun setelah diciptakan.

“Itulah aset sebenarnya,” tambahnya.

Menurut Aldo, sejumlah musisi juga kerap terlalu fokus mengejar jumlah follower, views, dan playlist. Meski angka-angka tersebut penting, ia menilai semua itu bukan fondasi utama.

“Kalau karya dan positioning lemah, angka hanya menjadi kosmetik,” katanya.

Sebaliknya, hal-hal yang justru sering diabaikan musisi adalah hak cipta, music publishing, metadata, kontrak, serta data audiens.

Padahal, menurut Aldo, aspek-aspek tersebut memiliki nilai ekonomi yang penting untuk membangun karier musik dalam jangka panjang.

“Musisi sering fokus membuat lagu, tetapi lupa membangun bisnis di belakang lagu tersebut,” ungkapnya.

Musisi Masa Depan Harus Memiliki Literasi Bisnis

Melihat perkembangan industri musik dalam lima tahun ke depan, Aldo memprediksi adanya tiga arah besar, yakni penggunaan kecerdasan buatan atau AI sebagai alat kerja sehari-hari, data yang semakin menjadi bahasa utama dalam pengambilan keputusan, serta katalog musik yang semakin bernilai sebagai aset.

“Musisi yang menang bukan yang paling viral, tetapi yang mampu membangun intellectual property yang kuat,” tuturnya.

Karena itu, menurut Aldo, kemampuan bermusik saja tidak cukup bagi musisi masa kini. Seorang musisi juga perlu memiliki literasi bisnis, literasi teknologi, kemampuan komunikasi, storytelling, serta kemampuan membaca data.

“Hari ini musisi bukan hanya seniman. Ia juga entrepreneur,” ujarnya.

Di akhir perbincangan, Aldo menyampaikan pesan bagi anak muda yang ingin membangun karier di industri musik.

“Jangan bercita-cita menjadi penyanyi terkenal. Bercita-citalah menjadi pemilik aset musik,” katanya.

Menurutnya, popularitas dapat datang dan pergi. Namun, kepemilikan atas lagu, hak cipta, katalog, serta audiens yang setia dapat menjadi fondasi bisnis yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

“Karena pada akhirnya, musik bukan hanya tentang menciptakan lagu. Musik adalah tentang menciptakan nilai yang terus hidup bahkan ketika lampu panggung sudah padam,” pungkas Aldo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version