News

Dr. Frengky Soroti Konten Bigmo Promosikan Vape Bersama Anak Kecil, Ingatkan Dampaknya bagi Generasi Muda

Published

on

JAKARTA — Polemik konten YouTuber Bigmo yang memperlihatkan promosi vape bersama anak kecil menuai perhatian publik. Praktisi kesehatan Dr. Frengky, Dip.Cib.Cid.Cos.Med., menilai konten semacam itu bukan sekadar persoalan tren media sosial, tetapi juga bisa memengaruhi cara anak-anak dan remaja memandang vape.

Menurut Dr. Frengky, stigma bahwa vape lebih sehat daripada rokok sudah banyak diluruskan. Faktanya, vape tetap mengandung nikotin yang dapat menyebabkan ketergantungan, serta berbagai zat kimia lain yang berpotensi berdampak pada kesehatan.

“Vape tetap mengandung nikotin yang bersifat adiktif. Selain itu, ada berbagai zat kimia yang bisa memengaruhi kesehatan paru-paru dan organ lainnya,” ujar Dr. Frengky.

Ia menjelaskan bahwa anak-anak dan remaja berada pada fase perkembangan otak, terutama pada bagian prefrontal cortex, yaitu area yang berperan dalam pengambilan keputusan, kontrol diri, dan penilaian terhadap suatu tindakan.

Karena itu, ketika figur publik atau influencer mempromosikan vape di hadapan anak kecil, ada kemungkinan anak-anak menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang keren dan layak ditiru.

“Usia anak dan remaja masih sangat mudah terpengaruh. Mereka cenderung mengikuti apa yang mereka lihat, terutama dari media sosial dan figur yang mereka kagumi,” katanya.

Dr. Frengky juga mengingatkan bahwa penggunaan vape pada usia muda tidak hanya berpotensi memengaruhi kesehatan paru-paru, tetapi juga konsentrasi, kontrol impuls, hingga perkembangan fungsi otak.

“Kalau anak sudah terpapar nikotin sejak dini, risikonya bisa lebih luas. Mulai dari ketergantungan, gangguan fokus, hingga dampak terhadap tumbuh kembang,” jelasnya.

Di tengah polemik tersebut, Dr. Frengky mengapresiasi langkah Bigmo yang telah menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga anak yang terlibat. Menurutnya, yang paling penting adalah adanya kesadaran agar kesalahan serupa tidak terulang.

“Yang utama adalah edukasi. Kalau seseorang sudah memahami dampaknya, meminta maaf, dan berkomitmen tidak mengulangi lagi, itu langkah yang baik,” ujarnya.

Ia pun mengajak para kreator konten untuk lebih bijak dalam membuat konten, terutama yang berpotensi ditonton oleh anak-anak. Di era digital, menurutnya, satu unggahan bisa menyebar dengan sangat cepat dan membentuk persepsi publik dalam waktu singkat.

“Konten yang positif dan edukatif akan jauh lebih bermanfaat. Kreator memiliki pengaruh besar, sehingga penting untuk memikirkan dampak dari setiap konten yang dibuat,” tutup Dr. Frengky.

Baginya, perlindungan anak dari paparan promosi produk yang berisiko terhadap kesehatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga orang tua, sekolah, dan para figur publik yang memiliki pengaruh besar di media sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version