News
Pekerja Cleaning Servis Masjidil Haram di Mekkah Keluhkan Pemotongan Gaji hingga Minimnya Jaminan Kesehatan
Sejumlah pekerja Indonesia yang tergabung dalam tim Cleaning servis atau petugas kebersihan di kawasan Masjidil Haram , Mekkah , menyampaikan keluhan terkait kondisi kerja yang mereka alami saat ini.
Salah satu perwakilan pekerja mengungkapkan bahwa mereka merasa tidak nyaman dengan sistem penggajian yang dinilai tidak transparan. Para pekerja mengaku telah bekerja sesuai kontrak, namun tidak menerima gaji secara penuh seperti yang dijanjikan.
“Seharusnya kami menerima gaji sekitar 800 riyal, tapi kenyataannya kami hanya menerima 500, 400, bahkan ada yang hanya 200 riyal,” ujarnya dalam pernyataan yang disampaikan dari Mekkah.
Menurutnya, jumlah tersebut sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi untuk mengirimkan uang kepada keluarga di Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa anggapan publik tentang besarnya penghasilan pekerja di Masjidil Haram tidak sepenuhnya benar.
“Banyak yang mengira gaji kami besar dan dapat banyak hadiah, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Kadang kami hanya mendapat tambahan 1 atau 2 riyal, itu pun tidak menentu,” lanjutnya.
Selain persoalan gaji, para pekerja juga menyoroti minimnya jaminan kesehatan. Meski disebutkan adanya asuransi, mereka mengaku tetap harus menanggung biaya pengobatan secara mandiri.
“Kalau sakit, kami tetap bayar sendiri. Untuk ke rumah sakit juga harus pakai taksi sendiri, tidak ada jaminan dari pihak perusahaan,” jelasnya.
Tak hanya itu, sejumlah peraturan yang diterapkan oleh pihak perusahaan atau syarikah juga dinilai memberatkan para pekerja. Mereka berharap adanya perhatian dan kejelasan dari pihak terkait agar hak-hak pekerja dapat terpenuhi dengan layak.
Para pekerja berharap keluhan ini dapat menjadi perhatian serius, khususnya terkait transparansi gaji dan perlindungan kesejahteraan selama bekerja di luar negeri.