News
Suyudi Ario Seto Resmi Dilantik sebagai Kapolri, Listyo Sigit Dapat Penugasan sebagai KSP
JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto melantik Komjen Pol. Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Pelantikan Suyudi dilakukan setelah DPR RI menyetujui pengangkatannya sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo. Persetujuan tersebut sebelumnya diputuskan melalui Rapat Paripurna DPR RI pada Kamis pagi.
Sebelumnya, Komisi III DPR RI menyetujui Suyudi sebagai calon Kapolri secara aklamasi dalam rapat uji kelayakan dan kepatutan. Keputusan itu kemudian dibawa ke Rapat Paripurna untuk mendapatkan persetujuan DPR.
Dalam proses uji kelayakan, Suyudi memaparkan visi “Polri Bersama Masyarakat” serta sejumlah agenda transformasi kepolisian. Ia sebelumnya menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) sejak Agustus 2025 dan pernah menjabat Kapolda Banten.
Pergantian pucuk pimpinan Polri tersebut dilakukan setelah Presiden Prabowo mengirimkan surat kepada DPR terkait usulan pemberhentian dan pengangkatan Kapolri. Surat tersebut diterima DPR pada 30 September 2026.
Sementara itu, Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo mengonfirmasi bahwa dirinya mendapat penugasan baru sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP), menggantikan Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman. Konfirmasi tersebut disampaikan Listyo menjelang agenda pelantikan di Kompleks Istana Kepresidenan.
Dengan pelantikan tersebut, Suyudi resmi mengambil alih kepemimpinan Polri, sementara Listyo Sigit menjalankan tugas baru sebagai pimpinan Kantor Staf Presiden.
Pergantian kepemimpinan Polri ini menjadi bagian dari rangkaian perubahan jabatan pemerintahan yang berlangsung pada awal Oktober 2026. (Redaksi)
News
Mayjen TNI (Purn.) Tatang Zaenudin Dorong Perlindungan Pekerja Migran melalui GEPPMI
JAKARTA — Kepedulian terhadap perlindungan pekerja migran Indonesia menjadi salah satu perhatian Mayjen TNI (Purn.) Tatang Zaenudin. Mantan prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tersebut menjadi salah satu pendiri Gerakan Pengusaha & Pekerja Migran Indonesia (GEPPMI) sekaligus dipercaya sebagai Ketua Dewan Pembina.
Keterlibatan Tatang di GEPPMI berangkat dari perhatian terhadap calon pekerja migran Indonesia yang akan bekerja di luar negeri. Menurutnya, perlindungan dan pendampingan perlu menjadi bagian penting dalam proses penempatan pekerja migran, baik sebelum keberangkatan maupun ketika mereka berada di negara tujuan.
Melalui GEPPMI, Tatang mendorong adanya kontribusi nyata dalam upaya memberikan perhatian terhadap pekerja migran Indonesia. Pengalaman dan nilai-nilai yang diperolehnya selama menjalani pengabdian sebagai prajurit menjadi salah satu landasan kepeduliannya terhadap masyarakat.
GEPPMI bergerak bersama Ketua Umum Jex Alatas yang memiliki pengalaman dalam proses penempatan dan perlindungan pekerja migran Indonesia ke luar negeri. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat perhatian terhadap para calon pekerja migran agar mereka mendapatkan informasi, pendampingan, serta perlindungan dalam proses bekerja di luar negeri.
Bagi Tatang, pekerja migran Indonesia memiliki posisi penting bagi perekonomian dan pembangunan nasional. Mereka tidak semata-mata dipandang sebagai tenaga kerja yang mencari penghasilan di luar negeri, tetapi juga sebagai bagian dari kekuatan ekonomi Indonesia.
Karena itu, perhatian terhadap pekerja migran perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas, termasuk bagaimana mereka dapat menjadi bagian dari pembangunan dan aset masa depan bangsa.
Melalui GEPPMI, Tatang bersama Jex Alatas dan para pihak yang terlibat berupaya membangun gerakan yang memberikan ruang bagi pengusaha sekaligus pekerja migran Indonesia.
Keterlibatan mantan prajurit dalam organisasi tersebut juga memperlihatkan bahwa nilai pengabdian dapat diwujudkan dalam berbagai bidang. Setelah menjalani perjalanan panjang di lingkungan militer dan misi kemanusiaan, Tatang kini turut memberikan perhatian terhadap persoalan pekerja migran Indonesia.
GEPPMI diharapkan dapat menjadi wadah yang mendorong kontribusi nyata bagi pekerja migran, sekaligus memperkuat kesadaran bahwa mereka merupakan bagian dari kekuatan ekonomi dan sumber daya manusia Indonesia yang perlu mendapatkan perlindungan serta perhatian.
News
Mayjen TNI (Purn.) Tatang Zaenudin, Meniti Pengabdian dari Kopassus hingga Misi Kemanusiaan
BANDUNG — Perjalanan pengabdian seorang prajurit tidak selalu berhenti pada pangkat dan jabatan. Hal itu tergambar dari perjalanan Mayjen TNI (Purn.) Tatang Zaenudin, yang selama puluhan tahun menjalani berbagai penugasan di lingkungan TNI hingga kemudian dipercaya mengemban tugas di Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).
Tatang mengawali karier militernya setelah menyelesaikan pendidikan Akademi Militer (Akmil) pada 1981. Ia kemudian menjalani sejumlah penugasan di lingkungan Komando Pasukan Khusus (Kopassus), termasuk sebagai Komandan Peleton Grup-3 Kopassus.
Dalam perjalanan kariernya di Kopassus, Tatang dipercaya mengemban sejumlah posisi, mulai dari perwira intelijen dan operasi, komandan kompi, hingga sejumlah jabatan komando dan pembinaan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan kepemimpinannya sebagai perwira TNI.
Selain tugas kedinasan, Tatang juga tercatat mengikuti sejumlah operasi, antara lain Operasi Timor-Timur pada 1984 dan 1987, Operasi Irian Jaya pada 1991, serta Operasi Timor-Timur pada 1999. Ia juga mengikuti berbagai kegiatan dan penugasan ke sejumlah negara, termasuk Thailand, Kanada, Arab Saudi, Filipina, India, Malaysia, dan Vietnam.
Dari Medan Operasi ke Pendidikan Strategis
Seiring perjalanan kariernya, Tatang tidak hanya berkutat pada tugas operasional. Ia kemudian menjalankan berbagai tugas di lingkungan pendidikan dan strategi militer.
Ia pernah dipercaya sebagai Kabagpam Sesko TNI, Pabandya-3/Pam Sdirum Kodiklat, Dosen Sesko TNI, Dosen Utama Sesko TNI, Paban-1/Nas Ditianbang Sesko hingga Kadep Strategi Sesko TNI.
Pada 2009, Tatang juga tercatat mengikuti Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLIII Lemhannas.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya dalam mengembangkan kemampuan kepemimpinan, pendidikan, serta pemahaman strategis yang tidak hanya bersumber dari pengalaman di lapangan.
Beralih ke Misi Pencarian dan Pertolongan
Babak lain dalam perjalanan Tatang terjadi ketika ia dipercaya bertugas di Basarnas. Pada 2013, ia menjabat Direktur Operasi dan Pelatihan Basarnas, sebelum kemudian dipercaya sebagai Deputi Bidang Operasi SAR Basarnas pada 2014.
Di lingkungan Basarnas, pengalaman yang sebelumnya banyak dibentuk melalui dunia militer diterapkan dalam tugas pencarian dan pertolongan. Tanggung jawab tersebut menuntut koordinasi berbagai unsur untuk menangani operasi yang berkaitan langsung dengan keselamatan manusia.
Pada September 2014, Tatang tercatat memperoleh kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal TNI.
Salah satu kegiatan yang tercatat dalam masa tugasnya adalah Latihan SAR Malindo ke-38 Tahun 2014, yang merupakan kerja sama Indonesia dan Malaysia dalam bidang pencarian dan pertolongan.
Pengabdian Tak Berhenti di Masa Purnatugas
Perjalanan Tatang Zaenudin memperlihatkan bagaimana pengalaman seorang prajurit dapat diterapkan dalam berbagai ruang pengabdian. Dari Kopassus, penugasan operasi, pendidikan strategis hingga Basarnas, setiap fase menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai perwira TNI.
Nilai disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan dan kemampuan mengambil keputusan menjadi bagian yang terbentuk sepanjang perjalanan tersebut.
Setelah memasuki masa purnatugas, pengalaman yang diperoleh selama puluhan tahun tetap menjadi bagian dari perjalanan kehidupannya.
Bagi Media Polisi Nasional (MPN), perjalanan Mayjen TNI (Purn.) Tatang Zaenudin menjadi gambaran mengenai pengabdian seorang prajurit yang tidak hanya menjalankan tugas di lingkungan militer, tetapi juga pernah berkontribusi dalam misi pencarian dan pertolongan.
Dari perjalanan tersebut, pengabdian dapat dimaknai bukan hanya melalui pangkat maupun jabatan yang pernah diemban, tetapi juga melalui pengalaman, kepemimpinan dan kontribusi yang diberikan kepada masyarakat.
News
GEPPMI Hadir Jadi Wadah Sinergi Pengusaha dan Pekerja Migran Indonesia
JAKARTA — Kepedulian terhadap penempatan dan perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) mendorong lahirnya Gerakan Pengusaha & Pekerja Migran Indonesia (GEPPMI). Organisasi ini didirikan oleh Zecky Alatas, atau yang akrab disapa Jex Alatas, sebagai wadah untuk memperkuat sinergi antara pengusaha dan pekerja migran Indonesia.
GEPPMI hadir dengan perhatian pada berbagai persoalan yang berkaitan dengan penempatan PMI, baik di dalam negeri maupun ketika pekerja berada di luar negeri. Organisasi tersebut ingin menjadi ruang komunikasi sekaligus memberikan solusi bagi pengusaha dan PMI dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul dalam proses penempatan maupun selama bekerja di luar negeri.
Jex Alatas mengatakan, GEPPMI tidak dibentuk untuk menjadi rival bagi asosiasi Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI). Menurutnya, GEPPMI merupakan organisasi kemasyarakatan yang ingin membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.
“GEPPMI ini bukan menjadi rival asosiasi P3MI. Kami organisasi kemasyarakatan dan akan memberikan solusi serta advokasi apabila ada para pengusaha P3MI yang membutuhkan bantuan hukum, baik di dalam negeri maupun di luar negeri,” ujar Jex Alatas.
Selain memberikan pendampingan, GEPPMI juga membuka ruang kerja sama dengan pemerintah maupun pihak swasta untuk membantu mempertemukan kebutuhan tenaga kerja dengan peluang penempatan PMI di luar negeri. Salah satunya melalui referensi agen-agen di berbagai negara yang membutuhkan tenaga kerja migran dari Indonesia.
Menurut Jex, GEPPMI juga akan berupaya mendampingi para anggotanya ketika menghadapi persoalan yang berkaitan dengan regulasi penempatan maupun permasalahan internal yang dihadapi pengusaha P3MI.
“Kami akan membantu anggota kami apabila ada permasalahan internal tentang regulasi penempatan serta permasalahan yang dihadapi oleh para pengusaha. Kami tidak akan tinggal diam,” katanya.
Jex menambahkan, GEPPMI lahir melalui inisiasi sejumlah pakar dan ahli di bidang penempatan PMI. Organisasi tersebut juga disebut melibatkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang, termasuk para purnawirawan jenderal dari empat matra.
Melalui kehadirannya, GEPPMI berharap dapat menjadi jembatan komunikasi antara pengusaha, pekerja migran, pemerintah, serta mitra di luar negeri. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat ikut mendorong terciptanya ekosistem penempatan PMI yang lebih tertata sekaligus memberikan perlindungan bagi para pekerja migran Indonesia.
-
News3 weeks agoWonderful Thailand! Duta Elok Persada dan Para DEPpreneur Siap Ukir Prestasi di DEP Extravaganza 10
-
Sosial1 day agoNofel Saleh Hilabi Dorong Solusi Taman Puring, Kadin Siap Jembatani Pedagang dengan Pemprov DKI
-
News2 weeks agoKepala BNN RI Suyudi Ario Seto Raih Kabar Award Nominasi Tokoh Anti Narkoba 2026
-
News3 weeks agoMabes Polri Bongkar Dugaan Jaringan PMI Ilegal di Banten, Sponsor dan Pengurus P3MI Ditangkap
-
News2 weeks agoZecky Alatas Bahas Sinergi Pengusaha dan Pekerja Migran Bersama Kausar Nefi dan Amhar Azeth
-
Hukum2 weeks agoKPK Amankan Fahd A Rafiq dalam OTT di BPN Kabupaten Bogor
-
News4 weeks agoErupsi Anak Krakatau, Tiga Bandara Ditutup Sementara dan Ratusan Penerbangan Terdampak
-
Entertainment1 week agoProfil Winna Maharani, Model Remaja Palembang yang Unjuk Bakat di ASEAN Fashion Festival 2026
