Connect with us

Sosial

Shira Dominique Mulyono, Siswa Bina Bangsa School, Maknai Tema “Legacy of Star” di Perayaan 25 Tahun Sekolah

Published

on

Wartahot.news — Perayaan 25 tahun Bina Bangsa School yang mengusung tema “Legacy of Star 2026” berlangsung meriah dan menjadi panggung bagi para 450 siswa wakil dari Bina Bangsa School di 5 kota, jakarta (pantai indah kapuk, kebon jeruk), Bandung. Balik papan, Semarang dan malang untuk menampilkan bakat serta kreativitas mereka.

Concert Music ini perpaduan alat musik Barat dan Cina. Musik Western dg alat musik: violin, viola, cello, terompet, fluid.
Musik Chinese:
Yang cin, Guzheng, Erhu, Gitar Cina.

Salah satu siswa yang menjadi solois mewakili BBS PIK Jakarta dan juga turut ambil bagian dalam acara tersebut adalah Shira Dominique Mulyono. Ia mengaku sangat bangga dan bahagia bisa terlibat dalam pertunjukan di momen spesial perjalanan Bina Bangsa School.

“Saya merasa sangat bahagia dan terhormat bisa menjadi bagian dari pertunjukan yang luar biasa ini, dan saya berharap bisa kembali menjadi bagian darinya tahun depan,” ujar Shira.

Shira juga menilai Bina Bangsa School memberikan banyak kesempatan bagi para siswa untuk mengembangkan bakat melalui berbagai kegiatan dan acara yang mendukung impian mereka.

“Bina Bangsa School sangat senang memberikan para siswa berbagai kegiatan, acara, dan kesempatan bagi siswa dengan beragam impian yang ingin mereka kejar. Hal ini membuat setiap siswa memiliki cara untuk menunjukkan bakat mereka secara maksimal sekaligus mendapatkan pengalaman untuk masa depan mereka,” tuturnya.

Ia menambahkan, suasana kebersamaan di sekolah membuat dirinya jarang merasa sendiri karena selalu ada teman-teman yang mendukung.

“Di Bina Bangsa School, saya hampir tidak pernah merasa sendirian karena teman-teman saya selalu ada untuk saya. Saya juga sangat suka bersosialisasi dengan orang lain, terutama dengan siswa dari kampus BBS yang berbeda,” ujarnya.

Dalam persiapan pertunjukan, para siswa juga menjalani latihan intensif melalui kegiatan music camp dan concert week yang berlangsung hampir sepanjang hari.

“Memang sangat melelahkan, tetapi saya sangat menyukainya karena biasanya di saat itulah saya bisa mendapatkan lebih banyak teman dan mempererat hubungan dengan banyak orang,” katanya.

Selain mengembangkan bakat, Shira menyebut Bina Bangsa School juga menanamkan nilai-nilai penting seperti sikap saling menghargai dan menolak perundungan.

“Kami diajarkan untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kami ingin diperlakukan. Artinya bersikap baik satu sama lain dan tidak ada perundungan. Kami diajarkan untuk menjadi orang yang berani membela dan membantu, bukan hanya menjadi penonton,” jelasnya.

Ia pun berharap Bina Bangsa School dapat terus berkembang dan melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga mampu menjadi pemimpin di masa depan.

“Saya berharap Bina Bangsa School dapat terus berkembang menjadi sekolah yang melahirkan para pemimpin serta memiliki siswa-siswa yang bersinar seperti bintang,” pungkasnya.

Sementara itu, Founder sekaligus Presiden Direktur Bina Bangsa School, Surya Putra Subandi, menjelaskan bahwa ide mendirikan sekolah ini berawal dari peristiwa kerusuhan tahun 1998. Saat itu banyak keluarga Indonesia yang kembali dari luar negeri dan kesulitan melanjutkan pendidikan anak-anak mereka di Indonesia.

Karena itu, ia berinisiatif menghadirkan sistem pendidikan internasional di Indonesia dengan membuka sekolah menggunakan kurikulum Singapura.

“Waktu itu muridnya hanya 27 orang dalam satu kelas. Tapi kami konsisten bahwa meskipun murid sedikit, gurunya tetap dari Singapura,” ujarnya.

Surya menegaskan bahwa tujuan mendirikan sekolah bukan semata-mata untuk bisnis, melainkan untuk masa depan generasi bangsa.

“Membuka sekolah bukan soal dagang. Kita membuka sekolah demi masa depan bangsa kita. Negara maju bukan dibangkitkan oleh uang, tetapi oleh pendidikan,” katanya.

Kini, Bina Bangsa School telah berkembang pesat dengan ribuan siswa dan kampus yang tersebar di tujuh kota di Indonesia.

Sementara itu, Director of Academic Bina Bangsa School, Yuliana, mengatakan pihaknya memiliki visi membina setiap murid agar menjadi pemimpin di masa depan.

“Kami melihat potensi setiap anak sejak dini, membangun empati serta menumbuhkan keinginan untuk berkontribusi bagi negara. Itulah yang kami tanamkan kepada para siswa,” ujarnya.

Perayaan Legacy of Star 2026 menjadi simbol perjalanan panjang Bina Bangsa School selama 25 tahun dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan siap bersinar di masa depan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sosial

Nayyara Azarine, Puteri Remaja Indonesia Jakarta 2025, Ajak Lebih Peduli Dukungan Psikososial Anak

Published

on

Jakarta – Puteri Remaja Indonesia Jakarta 2025, Nayyara Azarine yang akrab disapa Arin, menunjukkan komitmennya dalam mendorong pentingnya dukungan psikososial anak sebagai bagian dari proses pemulihan anak yang menghadapi tantangan kesehatan serius.

Di usia 18 tahun, Arin memanfaatkan platformnya bukan hanya sebagai simbol representasi generasi muda, tetapi juga sebagai ruang untuk menghadirkan dampak sosial yang nyata. Ia percaya, pemulihan anak tidak cukup hanya lewat intervensi medis, tetapi juga membutuhkan kehadiran emosional yang konsisten, lingkungan yang suportif, dan pengalaman positif yang menumbuhkan harapan.

Lewat berbagai kegiatan kebersamaan, Arin memperlihatkan bahwa perhatian sederhana seperti menemani anak bermain, berbincang hangat bersama keluarga, hingga memberi ruang untuk berekspresi secara kreatif, bisa membantu memperkuat kondisi psikologis anak selama masa pemulihan.

“Anak-anak yang sedang berjuang tetap berhak merasakan masa kecil yang utuh. Dukungan emosional bukan pelengkap, tetapi bagian dari proses pemulihan itu sendiri,” ujar Arin.

Perjalanan Arin hingga meraih gelar Puteri Remaja Indonesia Jakarta 2025 juga melalui proses pembentukan karakter yang panjang. Ia mengaku pernah menjadi pribadi yang pendiam dan cenderung introvert. Namun, empati yang ia miliki justru tumbuh menjadi kekuatan yang mendorongnya aktif di kegiatan sosial dan advokasi.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah dan melanjutkan studi di Fakultas Hukum , Arin berharap advokasi dukungan psikososial anak semakin dikenal sebagai isu penting yang perlu perhatian lintas sektor, mulai dari keluarga, komunitas, hingga para pembuat kebijakan.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu mengambil peran dalam isu sosial, meski dimulai dari langkah kecil. Menurutnya, perubahan besar sering lahir dari kehadiran yang tulus dan konsisten.

Melalui advokasi berbasis empati ini, Arin menegaskan bahwa kebahagiaan anak bukan hal sekunder. Kebahagiaan adalah fondasi yang membantu mereka tetap memiliki semangat, rasa percaya diri, dan harapan untuk masa depan.

Continue Reading

Sosial

Keren! Nayyara Azarine Farrashila Ramaikan Sunday Art & Culture Fest 2025

Published

on


Wartahot.news — Sosok muda inspiratif Nayyara Azarine Farrashila atau yang akrab disapa Arin, kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap isu sosial dan budaya. Runner Up V Puteri Remaja Indonesia 2025 ini turut hadir dalam Sunday Art & Culture Fest: Celebrate Disability International Day with Puteri Anak Indonesia Jakarta 2024, yang digelar pada 14 Desember 2025 di Apartemen Mahata Serpong, Stasiun Rawa Buntu, Tangerang Selatan.

Acara ini berlangsung hangat dan penuh warna, menghadirkan berbagai kegiatan seni dan budaya yang melibatkan penyandang disabilitas. Kehadiran Ibu Wali Kota Tangerang Selatan menjadi bentuk dukungan terhadap gerakan inklusivitas dan kesetaraan di tengah masyarakat.

Di usia 18 tahun, Arin dikenal aktif sebagai narasumber di berbagai talkshow yang membahas kepemudaan dan budaya. Pada peringatan Hari Disabilitas Internasional ini, kehadirannya bukan sekadar seremonial. Arin terlibat langsung dalam beragam aktivitas bersama teman-teman penyandang disabilitas.

Mulai dari membuat shibori di atas kaos, Arin menikmati proses berkarya yang menekankan kebersamaan dan kreativitas tanpa sekat. Ia juga tampil dalam fashion show inklusif, berjalan berdampingan dengan para penyandang disabilitas sebagai simbol persatuan, keberagaman, dan saling menghargai.

Melalui partisipasinya, Arin berharap kegiatan seperti ini dapat terus digelar sebagai ruang ekspresi seni dan budaya, sekaligus menjadi sarana edukasi untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya inklusi sosial.

Sebagai Runner Up V Puteri Remaja Indonesia 2025, Nayyara Azarine Farrashila berkomitmen untuk terus menjadi suara positif bagi generasi muda, dengan mengedepankan nilai budaya, empati, dan kepedulian terhadap sesama.

Continue Reading

News

Ritual Tahunan: Bencana, Korban Jiwa, Lalu… ‘Akan Kami Panggil’

Published

on

OPINI | Giostanovlatto
Founder, Hey Bali

Tragedi Sumatera bukan sekadar kecelakaan alam, tapi bukti berulangnya kegagalan manajemen risiko lintas rezim. Ketika peringatan tidak diindahkan dan koordinasi hanya bekerja setelah korban berjatuhan, kita harus bertanya: sampai kapan negara bergerak hanya setelah bencana terjadi?

“Pekan depan, kami akan panggil delapan perusahaan.”

Kalimat yang keluar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan beberapa hari lalu seharusnya terdengar tegas. Berwibawa. Sebuah sinyal bahwa negara hadir dan siap menegakkan hukum.

Tapi di telinga publik yang telah terlalu sering mendengar janji serupa, kalimat itu justru terasa seperti naskah lama yang diputar ulang. Sebuah ritual kata-kata yang akrab dan, jujur saja, kosong. Ia datang terlambat—setelah tanah longsor dan banjir bandang mengubur hidup ratusan keluarga di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Setelah lebih dari 700 nyawa melayang, ribuan rumah hancur, dan seisi negeri berkabung.

Di tengah bau anyir lumpur dan duka yang masih menyengat, sebuah pertanyaan pahit menggema: Mengapa panggilan ‘tegas’ itu selalu, selalu, datang setelah kuburan-kuburan mulai dipenuhi?

TRAGEDI SAAT INI: “PEMANGGILAN” DI TENGAH NISAN

Gambaran yang datang dari Sumatera pekan-pekan ini mirip adegan film bencana. Air yang bukan lagi air, melainkan lumpur hitam pekat bercampur pepohonan tumbang dan puing-puing, menyapu desa, jembatan, dan jalan. Korban jiwa melonjak dari puluhan menjadi ratusan dalam hitungan hari. Evakuasi berjalan lambat karena akses terputus. Ini adalah bencana hidrometeorologi dalam skala yang mengerikan.

Dan di tengah hiruk-pikuk tanggap darurat, muncul lah pernyataan resmi: pihak berwenang akan “memanggil” delapan perusahaan perkebunan dan kehutanan yang arealnya diduga berkontribusi pada bencana.

Respon ini, dengan segala formalitas birokratisnya, seakan ingin mengatakan, “Lihat, kami bertindak!”

Namun, yang dirasakan justru sebaliknya. Ini bukan tindakan. Ini adalah rutinitas. Sebuah pola respons baku yang telah terpateri dalam DNA birokrasi kita: Tragedi -> Publik Berduka -> Pemerintah “Bergerak Cepat” -> Panggilan, Janji, Tim -> Lupa -> Pengulangan.

Kita tidak sedang menyaksikan penanganan sebuah krisis. Kita sedang menyaksikan gejala dari sebuah penyakit kronis: Sindrom Respons-Krisis (Crisis-Response Syndrome). Sebuah kondisi di mana negara hanya mampu bergerak sebagai pemadam kebakaran, setelah rumah rakyat sudah menjadi abu.

BUKU PEDOMAN NASIONAL: SEJARAH PEMERINTAHAN YANG REAKTIF, BUKAN PROAKTIF

Untuk memahami bahwa kasus Sumatera bukanlah kelainan, melainkan pola, kita perlu membuka lembaran sejarah yang muram. Pola “tindakan setelah korban berjatuhan” adalah buku pedoman tak tertulis yang berlaku lintas rezim, lintas kepemimpinan, dan lintas pulau.

Kasus 1: Banjir Jakarta, Siklus Abadi.
Setiap tahun, ibu kota negara ini seperti menjalani ritual tahun baru yang kelam: banjir. Setelah air surut, proyek “normalisasi” sungai dan wacana giant sea wall mendadak ramai dibicarakan. Pejabat berjanji, anggaran digelontorkan. Tapi pertanyaannya selalu sama: Di mana ketegasan penegakan hukum tata ruang sebelum musim hujan? Di mana pengawasan ketat terhadap pengurukan wilayah resapan dan penyempitan aliran sungai yang terjadi sehari-hari? Aksi selalu datang setelah kota tenggelam, bukan untuk mencegahnya tenggelam.

Kasus 2: Kabut Asap Lintas Batas, Bisnis Seperti Biasa.
Sejak era 1990-an, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan telah menjadi krisis tahunan. ASEAN sudah berkali-kali mengeluh. Setiap kali langit di Riau atau Jambi menjadi kuning-oranye dan kualitas udara mencapai tingkat berbahaya, barulah kita menyaksikan operasi gabungan, pemadatan, dan—sekali lagi—”pemanggilan” perusahaan. Selalu setelah negara tetangga protes, sekolah-sekolah diliburkan, dan anak-anak kesulitan bernapas. Proses hukum berjalan lambat, sementara izin-izin baru mungkin saja telah terbit.

Kasus 3: Gempa & Tsunami, Ironi “Pembangunan Kembali”.
Kita sangat heroik dalam membangun kembali. Pasca gempa Palu, tsunami Aceh, atau gempa Lombok, upaya rekonstruksi digaungkan dengan semangat membara. Namun, heroisme itu sering menutupi kegagalan mendasar di tahap sebelumnya: penegakan standar bangunan tahan gempa yang masih lemah, sistem peringatan dini yang belum optimal, dan zonasi berbasis risiko yang dikalahkan oleh kepentingan properti.

Benang Merahnya jelas: Dalam pola pikir birokrasi kita, kebijakan sering kali bukanlah alat untuk merancang masa depan yang aman. Ia adalah alat respons terhadap masa lalu yang sudah rusak. Kita adalah ahli dalam berduka dan memperbaiki, tetapi amatir dalam mencegah.

ANATOMI KEGAGALAN: MENGAPA SISTEM INI BEGINI ADANYA?

Mengapa negara dengan segudang regulasi, kementerian, dan anggaran ini terjebak dalam siklus yang memalukan ini? Jawabannya bukan pada kejahatan individu, tetapi pada kegagalan sistemik.

  1. Kalkulasi Politik yang Pendek (Short-Term Political Calculus). Di mata birokrasi dan politisi, bertindak setelah bencana lebih “bermanfaat”. Terlihat heroik, mediatis, dan penuh solidaritas. Bekerja sunyi-senyap mencegah bencana—dengan menolak izin investasi bermasalah, menertibkan bangunan liar di bantaran sungai, atau menindak perusahaan nakal—adalah kerja yang tidak populer. Ia penuh risiko konflik dan tidak menjamin panggung. Lebih mudah menjadi “pahlawan” saat banjir daripada menjadi “pengawas” yang galak saat kemarau.
  2. Penegakan Hukum yang Tumpul dan Regulatory Capture. Indonesia bukan kekurangan aturan. UU Lingkungan Hidup, AMDAL, aturan tata ruang—semua ada. Masalahnya, penegakannya tumpul dan tidak konsisten. Hukum sering kali tunduk pada kepentingan bisnis (“regulatory capture”). Perusahaan hanya “dipanggil” untuk dimintai klarifikasi, jarang sekali dirugikan secara finansial atau dicabut izinnya secara permanen sejak dini. Hukum baru bergerak setelah bencana menjadi bukti yang tak terbantahkan.
  3. Birokrasi yang Terkotak-kotak (Siloed Bureaucracy). Lihatlah lembaga-lembaga yang terlibat: KLHK, Kementerian PUPR, BNPB, Pemerintah Daerah, KLHK Provinsi. Masing-masing memiliki wewenang, anggaran, dan kepentingannya sendiri. Koordinasi yang solid biasanya baru tercipta setelah bencana terjadi, dalam bentuk posko gabungan. Tanggung jawab untuk tindakan pencegahan yang proaktif terpecah-pecah, kabur, dan mudah untuk dialihkan.
  4. Amnesia Publik dan Akuntabilitas yang Lemah. Siklus berita kita cepat. Kemarahan publik atas sebuah bencana biasanya mereda dalam hitungan minggu, digantikan oleh skandal atau isu politik baru. Pejabat yang dianggap gagal mencegah bencana jarang sekali diberi konsekuensi politik yang nyata. Tidak ada pemecatan massal, tidak ada pengurangan anggaran untuk lembaga yang lalai. Kita lupa dengan cepat, dan mereka yang berkuasa tahu itu.

BIAYA MENJADI “PEMADAM KEBAKARAN”: LEBIH DARI SEKADAR KORBAN JIWA

Sindrom ini mahal. Sangat mahal. Biayanya melampaui daftar korban jiwa yang memilukan.

  • Biaya Ekonomi yang Boros. Dana tanggap darurat, rehab-rekonstruksi, dan bantuan sosial pasca-bencana selalu berlipat-lipat besarnya dibandingkan anggaran untuk mitigasi dan pencegahan. Kita menguras kas negara untuk membangun kembali apa yang seharusnya bisa kita lindungi. Ini adalah pemborosan kronis yang melemahkan pembangunan.
  • Erosi Kepercayaan Publik. Setiap kali ritual “pemanggilan setelah bencana” ini terulang, kepercayaan rakyat terhadap negara dan kapasitasnya mengurus rakyatnya terkikis sedikit demi sedikit. Masyarakat belajar untuk tidak percaya pada janji “tidak akan terulang lagi”. Yang lahir adalah sinisme, rasa tidak berdaya, dan penerimaan bahwa nasib ditentukan oleh alam dan kelalaian penguasa.
  • Degradasi Lingkungan yang Tak Terpulihkan. Setiap tragedi banjir bandang atau kabut asap adalah puncak gunung es. Di bawahnya, terjadi degradasi lingkungan harian yang dibiarkan: penggundulan hutan, alih fungsi lahan, pencemaran sungai. Kita sibuk memulihkan korban, sementara akar penyakitnya—kerusakan ekosistem—terus berlanjut, seringkali secara legal.

MEMUTUS RANTAI: DARI “PENGGALI KUBUR” MENJADI “PENJAGA”

Lalu, adakah jalan keluar? Atau kita hanya bisa pasrah pada siklus ini? Jalan keluar itu ada, tetapi ia membutuhkan perubahan radikal dalam logika bernegara.

  1. Mengubah Insentif: Ukur Kinerja dari Pencegahan. Sistem penilaian kinerja pejabat dan lembaga harus diubah. Berikan bobot besar pada indikator pencegahan: berapa banyak pelanggaran AMDAL yang ditindak sebelum operasi? Berapa persen peningkatan kualitas air sungai? Berapa banyak masyarakat yang telah dilatih dan diikutsertakan dalam sistem peringatan dini? Jadikan “zero disaster” sebagai tujuan, bukan “cepat tanggap saat disaster”.
  2. Hukum yang Mencengkeram Sebelum Bencana. Penegakan hukum harus bergeser dari mode reaktif ke proaktif. Cabut izin, berikan denda yang membuat jera, dan proses pidana terhadap korporasi yang melakukan pelanggaran berat sejak dini, ketika risikonya baru teridentifikasi, bukan setelah malapetaka terjadi. Hukum harus menjadi penjaga yang galak, bukan tukang bersih-bersih.
  3. Memperkuat Lembaga “Penjaga”, Bukan Hanya “Pemadam”. Alokasikan sumber daya dan kewenangan yang memadai—dan yang terpenting, perlindungan politik—kepada lembaga pengawas lingkungan, tata ruang, dan kebencanaan. Mereka harus menjadi tulang punggung negara preventif.
  4. Menuntut Ingatan Kolektif: Jadikan Isu Pemilu. Media, masyarakat sipil, dan kita semua harus menolak amnesia. Setiap bencana yang terjadi harus dikaitkan dengan janji-janji pasca-bencana sebelumnya. Tuntut pertanggungjawaban. Jadikan rekam jejak pencegahan bencana sebagai isu utama dalam setiap pemilihan, dari tingkat desa hingga presiden.

Kesimpulan: Sebelum Kuburan Berikutnya

Pemanggilan delapan perusahaan pekan depan mungkin akan menghasilkan berita utama, denda administratif, atau proyek tanggung jawab sosial perusahaan. Mungkin juga hanya akan menghasilkan notulen rapat yang lalu tersimpan rapi.

Namun, selama logika pemerintahan kita tetap bereaksi pada bau anyir kuburan, bukan pada laporan analisis risiko, pengawasan lapangan, dan teriakan para aktivis lingkungan yang memperingatkan bahaya; selama kita lebih memilih ritual “pemanggilan” daripada tindakan pencegahan yang tidak populer—maka kita semua, sebagai bangsa, hanya sedang menunggu.

Kita menunggu graveyard berikutnya.

Pertanyaannya bukan apakah bencana serupa akan terulang. Pertanyaannya adalah: di provinsi mana, berapa ribu keluarga lagi yang akan kehilangan tempat tinggal, dan berapa banyak nama lagi yang akan terpahat di nisan.

Continue Reading

TERKINI

News16 hours ago

MIO Indonesia Jakarta Timur Santuni 146 Anak Yatim di Duren Sawit pada Ramadan 1447 H

Jakarta Timur – Kepedulian terhadap sesama di bulan suci Ramadan ditunjukkan oleh Media Independen Online Indonesia Pengurus Daerah (PD) Jakarta...

News16 hours ago

Panglima TNI Lantik 796 Perwira Prajurit Karier TNI Reguler dan Program Khusus TA 2026

Jakarta – Panglima TNI Agus Subiyanto melantik dan mengambil sumpah sebanyak 796 Perwira Prajurit Karier (Pa PK) TNI Reguler dan...

Hukum2 days ago

Tim Pengacara LBH Brigade 08 Datangi Bareskrim Mabes Polri, Minta Perlindungan Hukum atas Dugaan KDRT

Wartahot.news – Tim pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Brigade 08 mendatangi Bareskrim Mabes Polri untuk meminta perlindungan hukum bagi...

Budaya2 days ago

Didukung Pemkot Jakut, Najwa Muyas Sarah Siap Berlaga di Puteri Kebaya DKI Jakarta 2026

Wartahot.news – Remaja berbakat Najwa Muyas Sarah resmi mewakili Jakarta Utara dalam ajang Pemilihan Puteri Kebaya DKI Jakarta 2026. Dukungan...

Sosial2 days ago

Shira Dominique Mulyono, Siswa Bina Bangsa School, Maknai Tema “Legacy of Star” di Perayaan 25 Tahun Sekolah

Wartahot.news — Perayaan 25 tahun Bina Bangsa School yang mengusung tema “Legacy of Star 2026” berlangsung meriah dan menjadi panggung...

Hukum2 days ago

Polda Lampung Tetapkan 14 Orang Tersangka Terkait Tambang Emas Ilegal

Lampung – Polda Lampung melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) berhasil membongkar praktik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) atau illegal...

Hukum2 days ago

POLDA METRO JAYA RINGKUS 7 (TUJUH) PEMUDA NEKAT PESTA NARKOTRIKA DI BULAN SUCI RAMADHAN

Infotainment5 days ago

Keren! Ryans Rayel Gelar Santunan dan Buka Puasa Bersama 600 Anak Yatim

JAKARTA — Artis sekaligus penyanyi dangdut Ryans Rayel menggelar kegiatan sosial bertajuk Ramadan Penuh Cinta dengan memberikan santunan serta buka...

News6 days ago

Kabar Duka, Penyanyi Vidi Aldiano Dikabarkan Meninggal Dunia

Jakarta – Kabar duka datang dari industri musik Indonesia. Penyanyi dan penulis lagu ternama, Vidi Aldiano, dikabarkan meninggal dunia pada...

Budaya1 week ago

Winner Puteri Remaja Jakarta 2025, Nayyara Azarine Tampil Memukau di Fashion Show Perayaan Imlek 2026

Jakarta, 17 Februari 2026 – Ajang Talent Show dan Fashion Show Perayaan Imlek yang diselenggarakan oleh Padma Organizer berlangsung meriah...

Trending