News
Machi Achmad Ungkap Kasus Ruben Onsu Berujung Damai, Laporan Resmi Dicabut
JAKARTA — Kasus dugaan penipuan dan penggelapan yang melibatkan Ruben Onsu memasuki babak baru. Pelapor dan terlapor telah mencapai kesepakatan damai, disertai pengembalian kerugian dan pencabutan laporan polisi.
Hal tersebut disampaikan Machi Achmad selaku kuasa hukum Ruben Onsu. Menurut Machi, pengembalian kerugian dilakukan melalui transfer ke rekening yang telah ditunjuk oleh kuasa hukum pelapor.
“Setelah adanya perdamaian antara pelapor dan terlapor, sudah ada bukti bahwa kerugian juga sudah diganti,” ujar Machi.
Perjanjian perdamaian telah ditandatangani para pihak, termasuk Ruben Onsu. Pelapor kemudian resmi mencabut laporan dan prosesnya dilanjutkan dengan pembuatan berita acara pemeriksaan (BAP) pencabutan.
Machi berharap perkara tersebut dapat segera dihentikan melalui mekanisme restorative justice.
“Kita tinggal menunggu penghentian kasus atau nanti juga bisa di-SP3 melalui metode restorative justice,” katanya.
Kerugian Rp3,5 Miliar
Machi menjelaskan, nilai Rp3,5 miliar merupakan pokok kerugian yang dilaporkan. Kedua pihak kemudian sepakat menyelesaikan persoalan berdasarkan nilai tersebut.
Machi juga mengungkapkan adanya sejumlah hal yang tidak diketahui Ruben dalam kerja sama tersebut, termasuk persoalan kontrak.
“Banyak ketidaktahuan dari Mas Ruben juga, bahkan kontrak juga tidak pegang. Jadi banyak ketidaktahuan yang akhirnya jadi banyak miss di situ,” tuturnya.
Ke depan, Machi memastikan aspek kontrak dan kejelasan hak serta kewajiban akan menjadi perhatian dalam setiap kerja sama, khususnya yang melibatkan nilai besar.
Kini, pihak Ruben Onsu masih menunggu keputusan penyidik Polres Metro Jakarta Selatan terkait penghentian perkara tersebut.
News
Brimob Polda Metro Jaya Sterilisasi JIS Jelang Persija Vs Brisbane Roar
JAKARTA — Satuan Brimob Polda Metro Jaya melakukan sterilisasi di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara, Sabtu (29/8/2026), menjelang pertandingan Persija Jakarta melawan Brisbane Roar. Langkah ini diambil sebagai tindakan preventif sebelum sejumlah area stadion digunakan untuk laga tersebut.
Personel Unit Jibom dan KBR terlebih dahulu berkoordinasi dengan panitia keamanan sebelum menyisir lokasi. Sejumlah area yang menjadi sasaran pemeriksaan antara lain ruang ganti pemain, ruang pelatih, ruang konferensi pers, area lingkar lapangan, kursi pemain, tribun, ruang VIP, hingga toilet.
Dansat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Pol Henik Maryanto menyampaikan bahwa penyisiran dilakukan guna memastikan seluruh area benar-benar kondusif sebelum kegiatan dimulai.
“Pemeriksaan kami lakukan secara teliti pada area-area strategis. Ini merupakan langkah preventif untuk memastikan lokasi steril sehingga seluruh rangkaian acara dapat berjalan dengan aman dan lancar,” kata Henik.
Dari hasil pemeriksaan, petugas tidak menemukan benda mencurigakan maupun yang mengarah pada bahan peledak. Setelah penyisiran selesai, personel menyerahkan berita acara sterilisasi kepada panitia keamanan dan tetap bersiaga di lokasi.
Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menambahkan, kesadaran dan kerja sama para penonton turut menjadi kunci utama kelancaran acara.
“Kami mengajak seluruh penonton mengikuti arahan petugas dan tidak membawa barang-barang yang dilarang ke dalam stadion. Mari bersama-sama menjaga ketertiban agar pertandingan dapat berlangsung lancar dan nyaman untuk dinikmati,” kata Budi.
Polda Metro Jaya juga mengimbau masyarakat di kawasan stadion untuk segera melapor kepada petugas atau menghubungi layanan Kepolisian 110 apabila menemukan hal maupun aktivitas yang mencurigakan.
News
BRI Dukung Pengembangan Masjid Jami Al-Fajri melalui Program TJSL Rp414,9 Juta
JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyalurkan dukungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk pengembangan sarana dan prasarana Masjid Jami Al-Fajri di Kelurahan Pejaten Barat, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Dukungan melalui Program BRI Peduli TJSL tersebut memiliki nilai anggaran sebesar Rp414.949.500. Bantuan diarahkan untuk meningkatkan sejumlah fasilitas masjid yang digunakan untuk kegiatan ibadah maupun aktivitas sosial dan kemasyarakatan warga.
Penyerahan hasil program TJSL dilakukan oleh Pemimpin Cabang BRI Pasar Minggu, Yanuar Akademikus Arbifirdaus, kepada Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Jami Al-Fajri, H. Tatang Hidayat, SH, pada Rabu (26/8/2026).
Dalam sambutannya, Yanuar mengatakan program TJSL merupakan salah satu bentuk kontribusi BRI dalam membangun sinergi dengan masyarakat, khususnya di sekitar wilayah operasional perusahaan.
“BRI terus bersinergi dengan masyarakat dalam mewujudkan Program BRI Peduli TJSL/CSR untuk pengembangan sarana dan prasarana Masjid Jami Al-Fajri,” ujar Yanuar.
Pengembangan fasilitas yang dilakukan melalui program tersebut mencakup sejumlah pekerjaan, antara lain pembangunan Gapura Utama 1 dan Gapura 2, pagar dan bak bunga, fasilitas multimedia, serta pemasangan kaca warna dan kaca patri.
Berbagai pekerjaan tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan fungsi bangunan, tetapi juga mendukung penataan lingkungan dan kenyamanan kawasan masjid.
Pembangunan gapura, misalnya, menjadi bagian dari penataan akses sekaligus memperkuat identitas bangunan. Sementara pagar dan bak bunga mendukung penataan lingkungan masjid agar lebih tertata.
Fasilitas multimedia juga diharapkan dapat menunjang berbagai kegiatan yang berlangsung di masjid, seperti penyampaian informasi, pengajian, kajian keagamaan, serta kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Selain aspek fungsi, pengembangan turut memperhatikan unsur estetika melalui pekerjaan kaca warna dan kaca patri yang menjadi bagian dari tampilan arsitektur masjid.
Ketua DKM Masjid Jami Al-Fajri, H. Tatang Hidayat, SH, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan BRI.
“Dengan adanya dukungan TJSL, fasilitas yang dibangun diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh jamaah dan masyarakat sekitar,” kata Tatang.
Menurutnya, keberadaan masjid tidak hanya berkaitan dengan aktivitas ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, peningkatan fasilitas diharapkan dapat mendukung berbagai kegiatan yang melibatkan jamaah dan warga sekitar.
Program tersebut juga diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan Masjid Jami Al-Fajri sebagai ruang kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, dan kemasyarakatan.
Yanuar menegaskan, keberlanjutan manfaat dari program tersebut menjadi salah satu hal yang penting setelah pembangunan fasilitas selesai dilakukan.
“Melalui sinergi antara BRI, pengurus DKM dan masyarakat, pengembangan Masjid Jami Al-Fajri diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi berlanjut pada pemanfaatan fasilitas secara berkelanjutan untuk kepentingan jamaah dan masyarakat Pejaten Barat,” ujar Yanuar.
News
Gatot Nurmantyo Soroti Keterlibatan TNI dalam Program Sipil, Ingatkan Pentingnya Profesionalisme Militer
JAKARTA — Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo kembali menyampaikan pandangan kritis mengenai semakin luasnya keterlibatan prajurit TNI dalam sejumlah program pemerintah yang berada di ranah sipil.
Pandangan tersebut disampaikan Gatot dalam webinar bertajuk “Kamu Bertanya, Jenderal Gatot Menjawab”, Rabu (19/8/2026). Ia secara khusus menyoroti keterlibatan TNI dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.
Menurut Gatot, keterlibatan prajurit dalam program tersebut bukan karena keinginan institusi TNI, melainkan karena menjalankan perintah.
Gatot menilai persoalannya bukan terletak pada kemampuan TNI untuk membantu pekerjaan sipil. Menurutnya, TNI memiliki organisasi, disiplin, personel, serta kemampuan logistik yang sangat besar sehingga secara kapasitas mampu menjalankan berbagai tugas.
Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kemampuan tersebut semestinya digunakan secara rutin untuk mengerjakan berbagai program yang sebenarnya dapat ditangani oleh institusi sipil.
Pandangan tersebut berkaitan erat dengan prinsip civilian control dalam negara demokrasi. Kendali sipil terhadap militer tidak berarti militer harus menjadi pelaksana berbagai program pemerintahan sipil.
Sebaliknya, profesionalisme militer justru membutuhkan batas yang jelas antara fungsi pertahanan dan fungsi pemerintahan sipil.
Pemikiran Samuel Huntington mengenai military professionalism juga relevan dalam melihat persoalan tersebut. Militer memiliki keahlian khusus, mulai dari pertahanan negara, strategi, operasi militer, intelijen, kesiapan tempur hingga menghadapi berbagai ancaman terhadap kedaulatan.
Karena itu, profesionalisme TNI akan semakin kuat apabila institusi tersebut memiliki fokus yang jelas terhadap kompetensi utamanya.
Dalam kondisi damai, prajurit juga membutuhkan waktu untuk menjalani latihan, meningkatkan kemampuan, mempelajari perkembangan teknologi pertahanan, memperkuat kesiapan operasi, serta mempersiapkan diri menghadapi ancaman baru.
Terlebih, karakter perang modern terus berkembang. Ancaman terhadap negara kini tidak hanya datang melalui kekuatan konvensional, tetapi juga dapat berbentuk serangan siber, penggunaan drone, perang elektronik, operasi informasi, tekanan ekonomi hingga operasi psikologis.
Karena itu, waktu dan energi prajurit merupakan sumber daya strategis yang perlu digunakan secara terukur.
Meski demikian, keterlibatan TNI dalam urusan sipil tetap dapat dibenarkan dalam kondisi tertentu. Bencana alam, keadaan darurat, distribusi bantuan, evakuasi, maupun kondisi ketika kapasitas sipil tidak mencukupi merupakan situasi yang dapat membutuhkan kemampuan militer.
Namun, menurut pandangan tersebut, harus terdapat batas yang jelas mengenai kapan bantuan diperlukan, mengapa TNI harus dilibatkan, berapa lama keterlibatan berlangsung, serta siapa yang mengambil alih tanggung jawab setelah keadaan kembali normal.
Persoalan kemudian muncul ketika keterlibatan yang awalnya bersifat khusus berubah menjadi pola permanen.
Jika berbagai program pemerintah semakin sering membutuhkan personel militer dalam pelaksanaannya, maka muncul pertanyaan mengenai kapasitas institusi sipil dalam menjalankan fungsi pemerintahan dan pembangunan.
Program MBG merupakan program sosial berskala besar. Begitu pula pembangunan Koperasi Desa Merah Putih yang berkaitan dengan agenda ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
Keduanya merupakan program penting. Namun, pentingnya sebuah program tidak otomatis menjadikan TNI sebagai pelaksana utamanya.
Indonesia memiliki kementerian, pemerintah daerah, tenaga profesional, badan usaha, koperasi serta berbagai perangkat sipil yang memang dibentuk untuk mengelola pembangunan dan pelayanan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, konsep division of labor menjadi penting. Negara membutuhkan pembagian kerja antarlembaga yang jelas. Militer berfokus pada pertahanan, sementara pemerintah sipil menjalankan administrasi dan pembangunan.
Kerja sama antarlembaga tetap diperlukan, tetapi kerja sama tersebut tidak harus menghilangkan batas fungsi masing-masing institusi.
Soroti Meritokrasi di Tubuh TNI
Selain keterlibatan TNI dalam program sipil, Gatot juga menyinggung pentingnya meritokrasi dalam sistem karier dan penempatan jabatan di tubuh TNI.
Promosi dan penempatan jabatan, menurut pandangan tersebut, semestinya didasarkan pada prestasi, kemampuan, moral, pendidikan, pengalaman, serta kualitas profesional seorang prajurit.
Meritokrasi dinilai penting untuk menciptakan sistem organisasi yang sehat. Prajurit yang bekerja keras dan meningkatkan kemampuan harus memiliki keyakinan bahwa prestasi akan dihargai.
Sebaliknya, apabila faktor kedekatan lebih menentukan dibandingkan kompetensi, organisasi berisiko menghadapi persoalan moral hazard karena individu dapat lebih terdorong mencari patron dibandingkan meningkatkan kemampuan profesional.
Kritik Gatot karena itu tidak semestinya langsung dipandang sebagai serangan terhadap pemerintah ataupun institusi TNI.
Sebagai mantan Panglima TNI, pandangannya mengenai profesionalisme militer dapat ditempatkan sebagai bagian dari diskursus publik mengenai bagaimana menjaga agar institusi pertahanan tetap profesional dan menjalankan fungsi utamanya.
Indonesia sendiri telah melalui proses reformasi yang membawa perubahan besar terhadap relasi antara militer dan pemerintahan sipil. Prinsip supremasi sipil menjadi salah satu fondasi penting dalam kehidupan demokrasi pascareformasi.
Karena itu, menjaga batas antara fungsi militer dan urusan sipil bukan berarti bersikap anti-TNI. Sebaliknya, hal tersebut dapat dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga agar TNI tetap profesional dan tidak kehilangan fokus terhadap tugas pertahanan negara.
Indonesia membutuhkan TNI yang kuat, profesional, memiliki sumber daya manusia berkualitas, didukung alutsista modern, menguasai teknologi pertahanan serta memiliki sistem karier yang berbasis meritokrasi.
Inti kritik Gatot pada akhirnya bukan mengenai apakah TNI boleh membantu masyarakat. TNI tentu dapat membantu ketika negara membutuhkan.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan bantuan tersebut tidak berubah menjadi ketergantungan pemerintah terhadap institusi militer dalam menjalankan pekerjaan sipil.
TNI harus kuat dalam pertahanan, sementara pemerintahan sipil harus kuat dalam pembangunan. Keduanya dapat bekerja sama, tetapi batas fungsi masing-masing tetap perlu dijaga.
Sebab, profesionalisme militer bukan berarti TNI harus hadir di semua bidang. Profesionalisme justru berarti mampu memahami tugas utamanya, menguasainya dengan sebaik-baiknya, serta menjaga fokus pada tanggung jawab pertahanan negara.
(Red)
-
News3 weeks agoDuta Elok Persada dan upaya membangun ekosistem bisnis di industri kecantikan dan kesehatan
-
Hukum4 weeks agoPedagang Taman Puring Dukung Program Pemprov DKI, Sekaligus Bantah Isu Menolak Dukungan Pemerintah
-
Infotainment4 weeks agoKeren! Mende Rilis Single Perdana “Kamu Tunggu Aku”, Angkat Kisah Hubungan Jarak Jauh
-
Sosial4 weeks agoKisah Yanti Affandi, Kreator Beauty dan Lifestyle yang Konsisten Berkarya Sambil Merawat Kucing Rescue
-
News3 weeks agoHak Jawab AS: Bantah “Oknum Pajak” dan Penelantaran Anak, Kuasa Hukum Beberkan Persiapan Nikah, Tes DNA hingga Laporan Dugaan Pemerasan
-
Infotainment3 weeks agoSimak! 5 Aktivitas yang Lebih Nyaman Dilakukan di Layar Besar Galaxy Z Fold8
-
News3 weeks agoGalaxy Z Fold8 Hadirkan Layar Besar Tanpa Ribet, Teman Ideal untuk Aktivitas Sehari-hari
-
News4 weeks agoSurvei PSI: Kepuasan Publik terhadap Pemerintahan Prabowo-Gibran Tembus 80,4 Persen
